Senin, 10 November 2008

Eksekusi Trio Bomber Bali I: Siapa yang diuntungkan???

Minggu, 9 November 2008 tepat pukul 00.15 WIB di Lembah Nirbaya Nusakambangan Cilacap, Amrozi, Muklas, Imam Samudra menjalani hukuman tembak oleh Brimobda Jawa Tengah setelah menjalani masa penantian selama 4 tahun lebih terkait peran mereka sebagai eksekutor lapangan dalam pengeboman di paddy's cafe dan sari club kuta Bali dan menjadikan 102 202 orang sebagai korban akibat aksinya. Polri sampai dengan saat ini belum dapat mengungkap siapa aktor intelektual dibalik aksi mereka, sesuatu hal yang masih menjadi misteri.
Aksi mereka oleh masyarakat disebut tragedi bom bali I terjadi Oktober 2002 secara kebetulan diduga merupakan rentetan peristiwa lanjutan sejak 11 September 2001 -'Black September'- dan oleh Amerika Serikat dijadikan dasar justifikasi tindakan arogansi melawan teroris (?) diseluruh sudut dunia. Tak pelak lagi Indonesia mendapat tekanan dari Amerika Serikat untuk segera menyelesaikan tragedi bom bali I, juga kemudian diterbitkan UU Pemberantasan Terorisme sebagai upaya partisipasi dalam perang global melawan teror. Segala macam dukungan untuk keperluan memberantas teror segera digelontorkan oleh Amerika Serikat dan Australia kepada Indonesia, Densus 88 Anti Teror-pun dibentuk sebagai jawaban atas dukungan itu.
Mungkin terinspirasi oleh buku Samuel Huntington - Clash Civilization- , Presiden George W Bush mengobarkan perang global (tepatnya perang peradaban kepada kaum muslim), invasi ke Irakpun menjadi sesuatu yang dihalalkan dengan dalih Presiden Saddam Husein termasuk juga pendukung teroris dengan mempunyai arsenal nuklir. Nyatanya, sampai dengan sekarang diIrak tidak ditemukan secuilpun arsenal nuklir, yang terjadi adalah penghancuran peradaban Islam diIrak. Ingat, banyak manuskrip Islam tua yang dihancurkan dan dicuri.
Kini, ketiga aktor lapangan bom bali I telah tiada. Banyak pihak merasa lega dengan eksekusi yang telah dilaksanakan pemerintah, tidak kurang Australia yang paling banyak warga negaranya menjadi korban turut senang, mereka menggangap hukuman mati adalah hukuman yang layak ditimpakan kepada trio bomber itu. Liputan peristiwa eksekusi tersebut banyak menyita perhatian media massa baik lokal maupun internasional, tak kurang media televisi melakukan siaran langsung sesaat setelah hukuman mati dilaksanakan di LP Nusakambangan dan pagi harinya bak jamur dimusim hujan, berbagai komentar bermunculan di televisi, dalam running text TVOne muncul komentar menggelitik dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM): Eksekusi akan mendorong iklim investasi meningkat di Indonesia. Apa urgensi langsung eksekusi mati dengan investasi di Indonesia? Padahal kita mengerti saat sekarang perekonomian dunia sedang limbung akibat meriangnya ekonomi Amerika Serikat. Muncul juga komentar yang mengaitkan selesainya eksekusi dengan peningkatan citra Presiden SBY dimata rakyat Indonesia menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.
Sebenarnya, siapa yang diuntungkan dengan selesainya pelaksanaan ekseskusi mati Trio Bomber itu???.....

Jumat, 17 Oktober 2008

Pesta Blogger 2008: Independen-kah ????

Ternyata punya weblog sebenarnya banyak manfaatnya meski gratis dan tak harus sewa hosting, disitu bisa dilakukan upaya belajar menulis, mengungkapkan ekspresi, mengaktualisasikan diri. Kenapa saya tekankan bisa dilakukan belajar menulis, pertama, bisa menstimulus budaya tulis menulis dan bagi orang indonesia adalah sesuatu yang kurang membudaya dan jujur saja, saya sendiri -blogger pemula- baru beberapa bulan ini belajar menulis di weblog ini. Kedua, dengan punya weblog mengharuskan saya untuk mencari 'ilmu' bagaimana bisa untuk 'merawatnya' dengan jalan mencari dan membuka weblog milik orang lain, dan tentunya dengan serta merta akan mengklik tautan weblog lainnya lagi. Dari sinilah proses mencari, menambah, pengetahuan semua bidang, memperluas cakrawala pandang semakin berkembang. Banyak sekali blogger yang tulisannya bagus-bagus, bermutu dan layout blog menarik sekaligus menggelitik, tidak kalah dengan penulis mapan yang biasa muncul di koran, majalah mainstream.
Memang tidak semua blogger menulis dengan jujur, memberi informasi berimbang. Pernah pula saya temukan webblog entah siapa yang punya baik tulisan, gambar dan layout blognya kacau sekali, isinya cuma makian, sumpah serapah, tendensius, SARA , provokatif dan lain-lain. Pada dasarnya sangat tidak beretika, tidak bermutu dan ammoral sekali. Tetapi, dari sekian blogger 'nakal' itu lebih banyak blogger yang jujur, bertanggungjawab, berkualitas tulisannya baik dilihat dari etika maupun moralnya. Blogger nakal kalau diibaratkan dalam bagian tubuh kita cuma ukurannya seupilnya saja, tak ada artinya dan tak ada pengaruhnya. Jadi, adanya tudingan kalau blogger itu cenderung kearah negatif, tidaklah sepenuhnya benar, absurd.
Ide yang cemerlang dan perlu didukung akan diadakan Pesta Blogger 2008 dalam waktu dekat. Diharapkan pesta blogger agar mampu menjadi penghimpun blogger Indonesia yang semakin hari semakin banyak dan akan memberikan nilai positif terhadap manfaat dan keberadaan bagi bangsa ini. Pesta bloger kali ini adalah yang kedua kali dilaksanakan, yang pertama telah setahun lalu diselenggarakan bertempat di Jakarta. Kabarnya, sukses dan dibuka oleh Menkominfo - Ir Muhammad Nuh- dan ditetapkan tanggal dan bulan tersebut sebagai hari blogger Indonesia.
Patut dimaklumi, weblog identik dengan sarana mengkritisi atas ketidakberesan terhadap semua hal dan sering kali dijadikan sebagai ajang perlawanan terhadap ketidakadilan yang tercipta dibumi ini serta sifat ketidakberpihakan (independen) kepada salah satu pihak. Ada satu hal yang jadi perhatian saya yaitu sponsor dalam rencana pesta blogger 2008 dengan keikutsertaan pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Departement Of State-United States Of America. Alih-alih ingin menjadikan himpunan blogger sebagai ajang persaudaraan yang bebas (independen) dan bertanggung jawab untuk mengkritisi terhadap sesuatu hal yang berbau ketidakadilan yang ada, tidakkah adanya sponsor tersebut akan membuat pesta blogger terkooptasi oleh kepentingan Pemerintah Amerika Serikat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tarik ulur atas kepentingan negara tersebut tentu akan mencederai semangat persaudaraan dan perlawanan yang selama ini diletupkan hampir semua blogger. Tidakkah kita ingat saat Indonesia melakukan 'pertempuran' dengan Malaysia karena mengklaim lagu Rasa Sayange berasal dari negeri jiran dan kita bisa lihat berapa banyak blogger Indonesia dengan semangat 45 kembali berkobar untuk saling bahu membahu menyerang blogger Malaysia ???. Rasa persaudaraan dan perlawanan saat itu timbul tanpa dikomando, serentak blogger kita 'menghantam' beradu argumentasi dengan blogger Malaysia, didasari oleh tindakan kesewenang-wenangan mengambil hak yang bukan miliknya.
Sekali lagi, apakah mungkin pesta blogger 2008 tidak akan terkooptasi terhadap kepentingan pemerintah Amerika Serikat yang akan menjadi salah satu sponsorship sponsor pesta blogger 2008.

Kamis, 09 Oktober 2008

Skandal Busang, Riwayatmu Kini....

Bondan Winarno dan Mak Nyuss.. Ya, tentu hampir setiap orang penggemar kuliner akan mengenalnya. Dialah host diacara wisata kuliner yang ada di stasiun televisi swasta milik Chairul Tanjung. Dengan gaya dan penuturan yang santai dia bisa menjelaskan segala tetek bengek bumbu-bumbu dalam olahan masakan/makanan, melebihi ibu rumah tangga yang biasa memasak. Tetapi, apa hubungannya Bondan Winarno dan Skandal Busang ???...
Sedikit flashback ke tahun 1997. Skandal Busang adalah kasus perebutan konsesi atas tambang emas bodong di daerah Busang, KalimantanTimur antara Bre-X dan Barrick Gold Corporation yang melibatkan klan Cendana dan sempat membuat malu Pemerintah Indonesia kala itu. Siapa sangka Bondan Winarno -mantan pemimpin redaksi Suara Pembaharuan- itu sebelum ngetop dengan wisata kuliner pernah menerbitkan buku reportase investigatif terkait kasus 'Busang' yang terjadi tahun 1997 lampau dengan judul Bre-X:Sebungkah Emas di Kaki Pelangi.
Sebenarnya saya tidak secara sengaja menemukan weblog milik Oryza Ardyansyah Wirawan -wartawan dari Jember- yang didalam weblognya memuat resensi atas buku karya Bondan Winarno itu. Ternyata banyak sisi gelap kasus busang terungkap dalam buku itu dan bisa memberikan gambaran betapa carut marutnya pengelolaan konsesi pertambangan di Indonesian yang hanya dikuasai oleh kalangan tertentu saja. Sayangnya, saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan buku itu sekarang di toko buku. Resensi oryza dibagi dalam 3 bagian dan selengkapnya bisa anda baca dibawah ini.

Bagian I

Aktor pertama yang mengawali ‘kisah Busang’ ini adalah John Felderhof, seorang geolog kelahiran Belanda. Ia meyakinkan David Walsh, seorang promotor saham Kanada, untuk bisa ke Kalimantan melihat potensi emas di sana. Setelah 12 hari keluar masuk hutan, Felderhof menyarankan Walsh mengakuisisi sebuah properti di Busang, Kalimantan Timur, yang sudah dieksplorasi pada 1987 – 1989 oleh Montague Gold NL.Walsh segera melayangkan surat kepada investor dari Bre-X untuk menjelaskan potensi Busang. Disebutkan dalam surat itu, tim geolog Australia yang sebelumnya melakukan eskplorasi sudah menemukan cadangan sebesar satu juta ons emas.Walsh lantas membuat kesepakatan dengan Montague pada Juli 1993. Ia diberi waktu enam pekan untuk menghimpun dana. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah meniup terompet Bre-X. Ia mendapat persetujuan menaikkan nilai saham Bre-X di Alberta Stock Exchange menjadi 40 sen. Lalu dengan bermodal kliping koran, ia menjajakan saham Bre-X. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengumpulkan C$ 200 ribu. Sementara Walsh beraksi di bursa saham, Felderhof mulai mengebor di Busang sejak September 1993. Dengan berani, ia melapor kepada Walsh, bahwa sudah menemukan cebakan yang memiliki cadangan emas 1,5 – 2 juta ton. Laporan ini membuat Walsh semakin bersemangat dan berhasil meraup C$ 1 juta dengan melakukan free trading saham Bre-X dari posisi Bresea – perusahaan induk Bre-X.

Sekondan Felderhof dalam urusan menggali Busang adalah Michael de Guzman, seorang geolog Filipina. Penemuan awal de Guzman di Busang digunakan Felderhof untuk meyakinkan Walsh. Bersama de Guzman yang punya beberapa anak buah, sensasi Busang diletupkan oleh Felderhof. Satu per satu temuan dipublikasikan yang semuanya menunjuk ke satu kabar: cebakan Busang yang memenuhi syarat untuk menjadi tambang emas kelas dunia telah ditemukan. Temuan tersebut membuat saham Bre-X laku keras. Walsh dengan piawai memainkan peran sebagai stock promotor. April 1996, saham Bre-X menembus C$ 192,50. Sebuah lonjakan fantastis, mengingat pada 1989 – 1992, harga saham Bre-X berkisar pada angka rata-rata 27 sen saja.Kisah Bre-X di Busang membuat Barrick Gold Corporation tergiur dan ingin menguasai mayoritas saham Bre-X. Namun, Walsh yang tersinggung dengan arogansi Barrick Chairman Peter Munk, mengabaikan tawaran dari raksasa tambang Kanada itu. Gagal menguasai Bre-X melalui ‘jalur baik-baik’, Peter Munk memilih ‘main atas’: merangkul birokrat Indonesia. Menteri Koordinator Produksi dan Distribusi Hartarto dirangkul, akses ke Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana ditembus. Sebuah surat dari Brian Mulroney, mantan perdana menteri Kanada yang memiliki 500 ribu saham di Berrick, disampaikan kepada Sudjana. Tak cukup itu, Barrick juga menggandeng Siti Hardijanti Rukmana untuk bekerjasama. Semua lobi itu membuat posisi Bre-X kena tonjok. Surat Izin Penelitian Pendahuluan (SIPP) Bre-X dicabut oleh Kuntoro Mangkusubroto, Direktur Jenderal Pertambangan Umum. Pencabutan ini atas permintaan Sudjana melalui staf ahlinya, Adnan Ganto. Semula Kuntoro diminta menangguhkan kontrak karya Bre-X di Busang II dan III.

Namun, ia menolak karena berlawanan dengan hukum. Belakangan, Kuntoro didepak dari posisi Dirjen Pertambangan Umum oleh Sudjana. Dr. Zuhal, Direktur Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi yang kerap bersuara keras terhadap sang bos, juga ikut dilengserkan. Masalah semakin ruwet, karena muncul Sigit Harjojudanto yang muncul menggandeng Felderhof melalui PT. Panutan Duta. Kompensasinya, PT Panutan Duta mendapat AS $ 1 juta setiap bulan selama 40 bulan untuk jasa konsultasi teknis dan administratif. Panutan Duta juga berhak memperoleh masing-masing 10 persen saham di Busang II dan III. Namun Bre-X keliru jika menganggap Barrick menyerah begitu saja. Barrick justru memainkan kartu truf-nya yang lain: mantan presiden AS George Bush. Surat dari Bush untuk Presiden Soeharto memohon agar Barrick diikutsertakan dalam proyek Busang. Petunjuk Soeharto pun jelas: Barrick Gold harus diikutsertakan dalam pengelolaan Busang.Untuk menyelesaikan konflik antara Bre-X dengan Barrick, Sudjana lantas mengumpulkan keduanya, 14 November 1996. Tanpa banyak cingcong, ia memutuskan Barrick mengambil 75 persen saham Busang dan Bre-X mempertahankan 25 persen saham. Pemerintah RI minta bagian 10 persen. Barrick merasa di atas angin, namun kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan. Di tengah situasi ruwet itu, Mohamad ‘Bob’ Hasan masuk gelanggang proyek Busang melalui PT. Askatindo yang diakuisisinya. Ia menggandeng Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc. untuk menyingkirkan Barrick dalam menggarap Busang. Peter Munk pun menyerah.Masuknya Freeport dalam konsorsium Busang dimanfaatkan Bre-X untuk mendongkrak citra. Kubu Bre-X langsung melaporkan bahwa dengan keahlian Freeport, tambang Busang bisa menghasilkan 150-200 ribu ton operasi per hari, sehingga bisa menghasilkan 6 juta ons emas per tahun.Namun Freeport tak seoptimis itu.

Skeptisisme profesional Jim Bob Moffet, CEO Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc., memandang perlunya due diligence untuk memverifikasi dan mengonfirmasi angka cadangan emas yang diklaim Bre-X. Tim due diligence Freeport hanya menemukan emas dalam jumlah tak signifikan dalam inti bor yang diambil dari Busang dan telah diteliti di New Orleans. Pada inti bor tim due dilligence hanya ditemukan sedikit emas vulkanis, sementara pada inti bor Bre-X yang ditemukan bukan emas vulkanis.Walsh terkejut. Felderhof terpana. Kubu Bre-X menyatakan Freeport mungkin tidak mengebor pada lubang yang tepat. Freeport pun meminta Bre-X menunjukkan persisnya lokasi emas bisa ditemukan. Maka Bre-X mengirimkan de Guzman sebagai manajer eksplorasi PT Bre-X Corp. ke Kalimantan, dan di sinilah puncak kehebohan Busang.Hari itu, Rabu, 19 Maret 1997, Michael Antonio Tuason de Guzman berangkat untuk memenuhi panggilan Freeport. Namun, tak ada yang menyana, ia terjatuh dari helikopter Alouette III yang membawanya dari bandara Temindung Samarinda ke basecamp tambang emas Busang di desa persiapan Mekarbaru. Letkol Edi Tursono yang menerbangkan helikopter itu bersama juru mesin Andrean tidak tahu bagaimana de Guzman bisa jatuh. Yang jelas, saat helikopter di atas ketinggian 800 kaki, pintu kanan telah terbuka dan bangku belakang telah kosong.Empat hari setelah aksiden itu, jenasah de Guzman ditemukan tertelungkup di dekat rawa pada petak 85 areal HPH milik PT. Sumalindo Group oleh tim SAR. Jenasahnya ditemukan Martinus, seorang karyawan Bre-X, dan sulit dikenali karena sebagian mata dan sebagian pipinya telah hilang membusuk. Menurut dokter yang melakukan otopsi, identifikasi semata-mata didasarkan pada pakaian yang dikenakan dan gambaran umum ciri-ciri tubuh si mati seperti dinyatakan oleh orang-orang yang mengenal de Guzman.Penemuan jenasah de Guzman memicu Bondan Winarno untuk mulai menulis buku tentang Bre-X. Penemuan jenasah di tengah ‘hutan brokoli’ Kalimantan yang dikenal sangat rapat dalam waktu tak sampai sepekan memiliki probabilitas yang sangat jarang. “Kondisi tubuh yang dideskripsikan dalam berita itu juga tidak cocok dengan kondisi tubuh seseorang yang jatuh dari ketinggian 800 feet. Dari sepotong info ini, saya membuat satu kesimpulan berdasar professional skepticism bahwa semua cerita ini adalah palsu. Karena itu saya sangat berminat melakukan investigasi,” kata Bondan dalam sebuah surat elektronik kepada saya. Bondan mengatakan, investigasi itu adalah keisengan di tengah sepinya bisnis perusahaan tempat di mana ia menjadi presiden direktur.

“Seingat saya, total waktu investigasi sekitar 4 minggu. Naskah sudah selesai saya tulis 8 minggu setelah mulai investigasi, dan dicetak dalam waktu 2 minggu,” jelasnya.Selain membongkar bertumpuk dokumen dan referensi lain, Bondan juga berburu narasumber di Jakarta, Samarinda, Balikpapan, Busang, Manila, Toronto, Calgary. Ia harus dua kali ke Busang, sekali ke Manila, dan sekali ke Toronto dan Calgary di Canada. Total jenderal, ia menghubungi kurang lebih 30 narasumber.Kehandalan Bondan sebagai jurnalis investigatif tampak saat menggali informasi eksklusif di Manila seputar kematian de Guzman. Memang harus diakui, daya pikat utama buku ini adalah upaya Bondan menguak misteri kematian de Guzman. Bondan curiga dengan kematian de Guzman setelah meneliti betul profil pria kelahiran berdasarkan informasi yang diterimanya dari sejumlah sumber. Ia menolak teori bahwa de Guzman mati dibunuh. Ditemukannya sejumlah surat tinggalan de Guzman merupakan bukti yang sangat melemahkan skenario pembunuhan, dan mengarah pada kematian akibat bunuh diri. “Bagaimana mungkin seorang yang dibunuh bisa menulis surat-surat berisi pesan-pesan yang begitu rinci,” tulis Bondan di halaman 131. De Guzman memang meninggalkan surat mencurigakan untuk Bernhard Laode, financial controller Bre-X, dan John Felderhof, yang mengesankan bahwa kematiannya direncanakan alias bunuh diri. Melalui Laode, ia titip pesan kepada sang istri Teresa agar jenasahnya dikremasi di Manila. Kepada Felderhof, de Guzman malah meninggalkan pesan ‘bunuh diri’ yang sangat terang, karena tak tahan dengan penyakit hepatitis B yang dideritanya. “Sorry I have to leave. I cannot think of myself a carrier of hepatitis “B”. I cannot jeopardise your lifes,” tulis de Guzman.Pengakuan de Guzman mengalami hepatitis B dibenarkan dua istrinya, Susani Mawengkang dan Lilis. Namun, tidak berhasil ditemukan catatan medis yang menunjukkan adanya hepatitis – B maupun penyakit liver akut sebagaimana yang pernah dikeluhkan de Guzman. Hasil uji jantung de Guzman juga menunjukkan kondisinya sehat-sehat saja. Maka, Bondan pun mencoret skenario bunuh diri dari kemungkinan penyebab kematian de Guzman. Ia menyodorkan hipotesis lain: kematian de Guzman adalah palsu. Di mata Bondan, pria Filipina berusia 41 tahun itu tidak memiliki profil seseorang yang berkeinginan melakukan bunuh diri. Ia justru menyebut de Guzman sebagai penikmat kehidupan. Ia menikahi sejumlah perempuan, di antaranya warga Indonesia dan dikenal royal dalam urusan harta.Menurut Bondan, de Guzman tengah berada di puncak dunia. Adik Michael de Guzman, Jojo de Guzman, juga menyangsikan sang abang bunuh diri. “Dia tak punya alasan untuk bunuh diri. Dia punya keluarga yang menyenangkan dengan enam orang anak yang manis,” katanya. Rudy Vega, salah satu sobat de Guzman yang mengikuti pesta minum-minum semalam sebelum kematian sang Filipino, juga mengatakan serupa. Pesta itu lebih meriah daripada pesta ulang tahun de Guzman sebelum-sebelumnya. “He behaved like he was on top of the world,” katanya. Kecurigaan Bondan menguat, setelah menemukan fakta bahwa jenasah yang diklaim sebagai jenasah de Guzman tidak memiliki gigi palsu sebagaimana dimiliki de Guzman semasa hidup. Dalam pelacakannya, Bondan mendatangi kantor National Bureau of Investigation (NBI) di Manila. Direktur NBI Santiago Ybanes Toledo menyatakan, pihaknya tengah menanti catatan gigi de Guzman dari pihak keluarga. Mengapa pihak keluarga tak juga menyerahkan dental records de Guzman? Bondan semakin curiga.Di bagian otopsi, seorang sumber membenarkan kecurigaan Bondan mengenai kematian de Guzman. Menurut sumber itu, seorang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki tak mungkin ditemukan dalam posisi tertelungkup dan dengan tanda-tanda trauma seperti yang ditemukan pada mayat de Guzman. Tanda-tanda trauma pada jenasah de Guzman lebih mirip tanda trauma pada orang yang jatuh dari pohon kelapa. Di pekuburan La Funeria Paz, tempat de Guzman dimakamkan, Bondan menemukan petunjuk yang lain. Tak ada bunga di atas makam. Tak ada pula sisa-sisa lilin, yang bahkan masih terlihat di makam-makam lainnya di sekitar makam de Guzman. Petugas makam mengatakan, selama hampir tiga pekan setelah dimakamkan, tidak ada satu pun anggota keluarga de Guzman yang berziarah.Ini suatu hal yang aneh. Seperti di Indonesia, di Filipina ada tradisi anggota keluarga terdekat mengunjungi makam kerabat yang meninggal sesering mungkin pada minggu-minggu pertama setelah dimakamkan. Tidak adanya bunga dan bekas lilin di atas makam de Guzman menunjukkan bahwa keluarga sang geolog tak pernah menjenguk.Bondan memiliki sumber-sumber yang cukup kuat dalam menyelidiki kematian de Guzman. Dari salah satu sumber, ia berhasil menemukan alamat dan nomor telpon de Guzman Enterprise di Manila. Bondan beruntung mendapat keterangan sumber ini, mengingat buku telpon tak bisa diandalkan.“Dalam investigasi saya, tak seorang pun tokoh-tokoh kunci yang terlibat kasus Busang ini yang tercantum namanya dalam buku petunjuk telpon. David Walsh dan Steve McAnulty di Calgary, Rolando Francisco di Toronto, Cesar Puspos dan Jerome Alo di Manila semuanya tak terdaftar,” tulis Bondan. (halaman 147).

Dari kecenderungan bungkamnya keluarga de Guzman di Manila saat ditemuinya, kecurigaan Bondan semakin tebal bahwa ada sesuatu di balik kematian de Guzman. “Kalau memang keluarga de Guzman tidak menyembunyikan apa-apa, kenapa mereka tidak mau bekerjasama dengan NBI?” Bondan akhirnya memang belum berhasil membuktikan secara kongret bahwa de Guzman masih hidup. Namun, ia meninggalkan plot open ended yang mengukuhkan keyakinan bahwa de Guzman kemungkinan ada di Cayman Island, Brasil, atau tempat terasing di salah satu sudut dunia, tengah menikmati hidup. ‘Kematian’ de Guzman seolah menjadi klimaks suspense skandal Busang. Satu per satu kebohongan Bre-X terkuak. Besarnya cadangan emas di Busang disebut hanya isapan jempol. Diduga kuat, de Guzman menjadi otak ‘peracunan’ inti bor yang digunakan untuk menemukan potensi emas di Busang. Caranya, menaburkan sejumlah emas di atas inti bor sehingga memunculkan kesan pengeboran menembus tanah dengan kandungan emas yang besar saat diperiksa di laboratorium.Peter Waldman dan Jay Solomon dari Harian The Wall Street Journal menulis, ‘peracunan’ ini dilakukan oleh sejumlah geolog Filipina, di sebuah gudang di Loa Duri, di samping sebuah sungai dekat Samarinda. Puncaknya, Desember 2006, ‘peracunan’ dilakukan siang dan malam di bawah pengawasan dua anak buah de Guzman, yakni Jerry Alo dan Rudy Vega. Namun, hasil investigasi Bondan menunjukkan bahwa berita The Wall Street Journal spekulatif. Berdasarkan penelusuran di Loa Duri, tak diperoleh keterangan mengenai ‘peracunan’ apapun terhadap inti bor. Cara dan tempat ‘peracunan; inti bor masih menjadi gelap. Yang terang benderang adalah, nilai saham Bre-X anjlok hingga titik nadir. Tanggal 6 Mei 1997, pada suatu titik transaksi di Toronto Stock Exchange, harga saham Be-X hanya 6 sen. Dalam selang beberapa hari, nama Bre-X dicoret dari daftar di bursa saham Toronto, Alberta, dan Vancouver. Bre-X lantas secara sukarela mengundurkan diri dari NASDAQ di New York.Bondan berhasil mencatat semua keributan Bre-X itu dalam bukunya. Juli 1997, Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi dicetak dan mulai diedarkan. Tabloid Kontan menyebut Bondan telah memenangkan perlombaan penulisan tentang Busang. Bukunya bisa disandingkan dengan The Bre-X Fraud karya duet reporter The Mail and Globe Douglas Goold dan Andrew Willis, Bre-X: Gold Today, Gone Tomorrow karya James Whyte dan Vivian Danielson, Bre-X: The Inside Story karya Diane Francis, atau Fools Gold: The Making of a Global Market Fraud karya Brian Hutchinson.Para penulis bule itu tidak berhasil memastikan kematian de Guzman. Francis malah melemparkan apologi bahwa dengan polisi, militer, dan pemerintah yang korup, misteri de Guzman (dibunuhkah dia?) sulit dikuak. Buku-buku penulis asing itu akhirnya hanya berputar-putar opada intrik politik dan bisnis yang mewarnai skandal ini. Dari dalam negeri, majalah Tempo dalam rubrik Investigasi menulis kembali skandal tersebut dengan judul Busang, Kroni Soeharto, dan Skandal Abad Ini (Tempo, 7 Desember 1998). Namun, tulisan tersebut hanya rangkuman bahan dari beberapa buku, riset media internasional via internet, dan hanya mengonfirmasikan perkembangan terakhir Busang kepada pihak yang relevan.Berbeda dengan Bondan, Tempo malah tidak menyinggung sama sekali kemungkinan de Guzman memalsukan kematiannya. Dalam tulisan berjudul Tragedi di Akhir Pesta, teras berita Tempo masih berkutat pada dua kemungkinan: bunuh diri atau dibunuh

Bagian II

Sepuluh tahun berlalu. Banyak hal yang terjadi sejak skandal Busang terbongkar dan buku investigasi Bondan diterbitkan. David Walsh meninggal Kamis, 4 Juni 1998, di sebuah rumah sakit di Bahama dalam usia 52 tahun. Empat hari sebelumnya ia terkena stroke. Menurut juru bicara Doctors Hospital di Nassau, Walsh meninggal pukul 12.15, ditemani anggota keluarganya di samping ranjangnya. George Damianos, seorang agen real estate berkebangsaan Bahama menduga, tekanan skandal Bre-X turut memberikan sumbangan terhadap kondisi Walsh yang kritis. “Setiap orang ingin mencincangnya,” katanya. Sementara itu, Bre – X dinyatakan bangkrut tahun 2002, kendati ada sejumlah perusahaan subsidernya seperti Bro-X berlanjut hingga tahun 2003. Ini puncak dari berbagai gugatan hukum dari para investornya yang marah karena kehilangan miliaran dollar. Tiga organisasi publik Kanada yang mengalami kerugian besar-besaran adalah The Ontario Municipal Employees Retirement Board ($45 juta), the Quebec Public Sector Pension fund ($70 juta), dan the Ontario Teachers Pension Plan ($100 juta). Mereka yang merasa dirugikan lantas mengajukan class action terhadap Bre-X. Felderhof menjadi orang terakhir dari Tiga Besar Bre-X yang diketahui masih hidup. Ia sempat dikabarkan berada di berbagai tempat yang aman dari jangkauan hukum, seperti Kepulauan Cayman yang tak memiliki perjanjian esktradisi dengan Kanada. Di sana, ia menyimpan aset-asetnya.Yang mengejutkan, Calgary Herald melaporkan, Felderhof sempat berada di Bali dan menikmati hidup di sana. Padahal, praktis, ia menghadapi gelombang tuntutan hukum akibat skandal Busang seorang diri. Ia mewakili dirinya langsung dalam menghadapi proses hukum terpisah di Ontario. Ia tak lagi punya kuasa hukum, karena menunggak fee sang kuasa hukum hingga $1 juta. Sementara aset Felderhof di Kepulauan Cayman tampaknya telah dibekukan pengadilan sejak tahun 1997.

Komisi Keamanan Ontario (Ontario Securities Commission/OSC) telah menyeretnya ke meja hijau. Komisi ini menyatakan Felderhof telah merilis berita menyesatkan sebagai isu dalam investasi publik. Persidangan Felderhof sudah berjalan selama enam tahun, sejak tahun 2001. Diharapkan, Hakim Superior Court Peter Hryn sudah bisa membacakan putusan Juli 2007. Jika tuduhan itu terbukti, Felderhof bakal terkena sanksi mulai dari denda sekitar $1 juta hingga penjara selama dua tahun, ditambah sanksi atas insider trading yang dilakukannya.Kematian de Guzman masih misteri. Namun, Bondan bersikukuh pada tesisnya soal kematian palsu. Saat saya berandai-andai soal kelanjutan kisah Busang, ia memilih untuk mencari de Guzman sebagai sekuel. “Kalau saya benar-benar menganggur dan tidak punya urusan lain, saya akan mencari Michael de Guzman. Saya punya beberapa lead menuju ke sana. Michael telah menyengsarakan begitu banyak orang (khususnya pensiunan) di Kanada karena memakai semua tabungan mereka untuk membeli saham Bre-X.” Boleh jadi Bondan benar. Genie de Guzman, istri kedua Michael, menyatakan pernah dua kali menerima uang dari sang suami sejak dinyatakan hilang. Menurut koran Calgary Herald, pada tahun 2005 Genie mengaku kepada jurnalis John McBeth, bahwa Michael de Guzman menelpon ke rumah enam pekan setelah dilaporkan tewas. Sang geologis sempat bicara dengan salah satu pembantu di rumah. "Mike bilang, saat itu senja baru saja turun di tempat di mana dia baru saja bangun,” kata Genie. Ia diminta mengecek rekening banknya, dan di sana memang terdapat transfer AS $ 200 ribu. Genie mengaku menerima sebuah faksimili dari Brasil, tambahan deposito $ 25 ribu di tahun 2005. Menurut laporan Calgary Herald, uang dikirimkan saat Hari Kasih Sayang yang bertepatan dengan hari ulang tahun de Guzman. Direktur Jenderal Geologi dan Mineral saat itu Simon Sembiring juga meragukan kematian de Guzman. De Guzman bisa saja memalsukan kematiannya agar kebohongannya tak terbongkar.Sayangnya, kendati sudah memiliki petunjuk tentang de Guzman, Bondan ternyata tidak berniat untuk membuat sekuel investigatif tentang skandal Busang. “Tidak. Tidak ada gunanya,” katanya kepada saya. Bondan tampaknya sudah patah arang, setelah bukunya tentang Bre-X menghadapi beberapa kali upaya sensor dan breidel dari orang-orang yang punya kekuasaan di negeri ini.

Saat diterbitkan pertama kali, peredaran buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi langsung dihambat oleh seorang yang berpengaruh di masa orde baru melalui tangan hukum. Sang pejabat bahkan berani mengganti biaya operasional Bondan untuk menerbitkan buku itu, asal Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi tidak diedarkan. Dalam suplemen yang diselipkan di bukunya yang dikirimkan kepada saya, Bondan mengaku kecewa berat karena sebuah karya coba dimatikan begitu saja dengan uang. Ia merasa jerih payahnya tidak dihargai sama sekali. Dengan rasa penuh frustasi, Bondan pernah berniat menghancurkan 5.000 eksemplar buku yang tersisa. Namun runtuhnya rezim orde baru membuat optimismenya bangkit. Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi kembali diedarkan dalam situasi yang lebih bebas. Juni 1998, buku itu beredar di pasaran. Namun, di tengah era kebebasan itu, Bondan justru diserang lewat lembaga peradilan. Ia dituntut Rp 2 triliun oleh mantan Menteri Pertambangan dan Energi I.B. Sudjana yang menuduhnya mencemarkan nama baiknya. Selain itu, Bondan juga dituntut memasang iklan permintaan maaf di 10 media cetak di Jakarta dan dua koran di Bali.Beberapa ‘dosa’ Bondan di mata Sudjana, antara lain konklusi yang ditulis dalam buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi mengenai “kesalahan” pada proyek kerjasama antara Bre-X dengan mitra domestik PT Tambang Batu Bara Bukit Asam. Sudjana menggunakan apa yang tertulis di halaman 186-187, tepatnya dalam bab 8 ‘Ida Bagus Sudjana’, untuk menghantam Bondan. Dalam bab itu, ditulis mengenai inkonsistensi Sudjana dalam menangani Busang dan soal permintaan setoran dana Rp 50 miliar ke rekening Pak Menteri.Dalam bukunya, Bondan menulis:Inkonsistensi adalah ciri yang agak menonjol dari Sudjana. Pada Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, 11 Desember 1996, ia mengatakan bahwa BUMN harus ikut dalam konsorsium menggarap Busang. Pada 17 Februari 1997 ia mengamini Mohamad Hasan yang mengatakan bahwa BUMN tidak boleh ikut sebelum tahap eksploitasi karena resiko yang terlalu besar. Pada akhir Februari 1997 ia menyatakan bahwa putranya, Dharma Yoga Sudjana, tidak diizinkan ikut serta menikmati kueh Busang. Tetapi, itu dikatakannya setelah jelas-jelas Barrick - di mana putranya semula ikut terlibat – terdepak keluar dari pertarungan untuk memperebutkan rezeki Busang. Sikap inkonsisten itu pula yang tampak ketika ia dihebohkan meminta dana dari PT Tambang Batu Bara Bukit Asam senilai Rp 50 miliar untuk disetor ke rekening pribadinya pada 1994.

Menurut Sudjana, dana itu diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan Departemen Pertambangan dan Energi. Sebagaimana ditulis Tempo, Sudjana berang karena kepribadiannya tak luput dari sorotan. Sudjana dikatakan kurang pintar berbahasa Inggris dan daya ingatnya pendek. Gaya bicaranya kurang mengesankan dan sikapnya kurang manusiawi. Sudjana menyatakan Bondan tak pernah menghubunginya untuk mengonfirmasi bahan tulisannya. Bondan bersikukuh, tak ada yang salah dengan bukunya. Soal uang Rp 50 miliar yang masuk rekening Sudjana, ia mengatakan kepada TEMPO, “Saya hanya bilang soal dana itu dihebohkan. Saya tak bilang ia korupsi.”Soal performa Sudjana yang tidak mengesankan itu, sebenarnya Bondan mengutip Brian Hutchinson di Canadian Business. Hal ini ditulis di halaman 100.…Misalnya tentang Sudjana, ia (Hutchinson, penulis) menulis: The tall, stiff Sudjana has no grasp of the technicalities of mining. He is completely incompetent, he leaves everything to his advisers. Tidak kompetennya Sudjana jelas bukan fiksi. Pada halaman 188, kunjungan Pak Menteri ke Kanada yang disebut Bondan meninggalkan impresi yang mendalam bagi pers.Kabarnya, pers di sana mengatakan bahwa bicaranya (Sudjana, penulis) tak mengesankan. Waktu itu Sudjana didampingi Kuntoto dan Kuntoro-lah yang akhirnya lebih banyak bicara. . Sementara soal ketidakmahiran Pak Menteri berbicara dalam bahasa Inggris, itu didasarkan pada fakta yang ditemukan Bondan, sebagaimana tertulis di halaman 102. Di situ diceritakan tentang pertemuan Sudjana dengan Bre-X dan Barrick, tanggal 14 November 1996. Bondan menuliskan begini:Pertemuan itu berjalan singkat. Sudjana membacakan pernyataan tertulis dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah… Tak ada penjelasan lebih lanjut. Sudjana berdiri dan kemudian meninggalkan ruang rapat.Kendati merasa yakin sudah menyajikan fakta, tuntutan Rp 2 triliun membuat Bondan pusing juga. Kepada Tempo, ia mengaku stres. “Angka nolnya saja ada dua belas,” ujar pria yang saat itu tengah menjadi konsultan Bank Dunia di Jakarta. Mengenang kasus itu, kepada saya Bondan mengatakan, Sudjana berani menuntut karena dirinya tidak berkaitan dengan media mainstream. “Padahal, di pengadilan saya buktikan betapa media mainstream (termasuk KOMPAS dan TEMPO) memakai bahasa caci-maki yang cukup keras di media mereka. Buku saya memakai bahasa yang lebih santun,” jelasnya. Keheranan Bondan dituangkan dalam sebuah artikel di Kompas terbitan 19 November 2001 berjudul "The Audacity of the Desperate". Tanpa menyinggung nama Sudjana, ia menegaskan bahwa nama Pak Menteri sudah rusak pada 1997, sementara buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi baru beredar tahun 1998. “Lho, elok, kan? Kok saya yang dituduh mencemarkan nama baiknya,” tulis Bondan. Dengan dituntut Rp 2 triliun, Bondan merasa dosanya 160 kali lebih besar daripada dosa Osama Bin Laden. Osama yang dituduh berada di balik kehancuran dua menara kembar World Trade Center hanya dituntut US $ 1,25 juta, atau setara dengan Rp 12 miliar. Dalam pertarungan hukum perdata dan pidana, Bondan terjengkang.

Di pengadilan pidana ia dinyatakan bersalah, dengan dalih hukum: untuk menghina seseorang tak diperlukan adanya niat. Bondan diharuskan membayar ongkos perkara Rp 1000, dan menjalani hukuman percobaan beberapa bulan. Dalam perkara perdata, Bondan dinyatakan kalah dan harus membuat iklan pernyataan maf sebesar satu halaman di 16 koran nasional. Kekalahan ini menyakitkan bagi Bondan. Ia melihat motif Sudjana bersiasat untuk mencuci nama melalui lembaga pengadilan. “Yang penting, agaknya, adalah adanya keputusan pengadilan yang menyatakan saya bersalah dan menjadi terpidana. Dengan demikian orang yang memerkarakan saya itu bisa mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa ia menang,” tulis Bondan di KOMPAS. Namun tidak ada yang lebih membuat Bondan remuk redam, kecuali tuduhan bahwa dirinya menulis buku itu karena dibayar oleh Kuntoro Mangkusubroto yang kemudian menjadi Mentamben. “Saya sakit hati. Banyak pejabat yang menduga wartawan itu kere dan tidak punya duwit, karena itu tidak mungkin seorang wartawan membiayai sendiri investigasi sekaliber itu. Tuduhan ini sangat meyakitkan.,” kata Bondan kepada saya. Entah bagaimana tuduhan itu bisa muncul. Boleh jadi, kesan itu muncul dari nuansa tulisan Bondan yang cenderung bersahabat dengan Kuntoro. Bagi pihak yang jengkel terhadap Bondan, Post Scriptum di halaman 230 bisa dijadikan alasan untuk menuduhnya bias saat menulis tentang Kuntoro.Bondan menulis:Dengan gembira saya menambahkan catatan ini. Dr. Kuntoro Mangkusubroto dalam waktu singkat telah “direhabilitasi”. Pada bulan Juni 1997 Presiden Soeharto telah mengangkat Kuntoro sebagai Wakil Ketua BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Bondan kecewa dikalahkan di pengadilan. Namun, yang tak kalah mengecewakan adalah tiadanya dukungan dari media massa di Indonesia. Ia merasa sendirian dalam persidangan melawan Sudjana. Ironis. Padahal, Bondan menjadi salah satu orang terdepan dalam gerakan Pers Melawan Premanisme yang memprotes kekerasan yang dilakukan anak buah Tomy Winata terhadap wartawan TEMPO. Waktu itu dukungan justru dari kawan-kawan Bondan di Bank Dunia yang berniat urunan untuk membiayai ongkos perkara. Namun ia menolak bantuan itu, karena khawatir dituduh macam-macam lagi.Rasa trauma dan kecewa yang akhirnya membekuk niat Bondan untuk membuat sekuel bukunya. “Karya saya tidak diakui oleh lembaga pers Indonesia. Buat apa?” katanya. Jangankan membuat sekuel. Buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang sudah kelar diterjemahkan ke bahasa Inggris dan sudah disunting Wendy Thomas (Kanada) pun urung diterbitkan. “Saya tidak bersedia menghadapi lembaga peradilan yang korup di Indonesia. Untuk masalah buku ini saya sudah hilang banyak uang,” kata Bondan.

Bagian III

Satu dasawarsa sejak Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi terbit, Indonesia berada di era kebebasan. Media massa tumbuh subur. Tak ada lagi breidel. Tak ada lagi sensor dan pembungkaman terhadap pers. Perang terhadap korupsi dan kejahatan negara mengemuka. Seharusnya, dalam iklim seperti ini, jurnalisme investigatif sebagaimana yang didemonstrasikan Bondan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Indonesia membutuhkan produk media yang mengedepankan verifikasi dan pemantauan terhadap laku kekuasaan. Ini semua ada pada jurnalisme investigatif. Sayangnya, satu dasawarsa setelah Bondan menelanjangi Bre-X dan skandal Busang, publik jarang disuguhi laporan jurnalistik yang menyelidik. “Terus terang hanya TEMPO yang saya anggap punya kemampuan melakukan investigasi, dan menggarapnya secara apik pula,” kata Bondan.TEMPO sejak pertama kali terbit tahun 1998 menyediakan rubrik khusus Investigasi. Salah satu edisinya, 7 Desember 1998, memuat kisah tentang Skandal Busang. Dalam rubrik itu, TEMPO memuat delapan artikel yang ditulis Hermien Y. Kleden dan Farid Gaban. Namun, untuk membandingkannya dengan karya Bondan, rasanya terlampau jauh. TEMPO tidak melakukan reportase keliling dunia layaknya Bondan. Rubrik Investigasi tentang Busang hanya berisi cuplikan buku penulis bule dan riset data di internet. Saya tidak tahu, kenapa buku Bondan tidak ikut dijadikan referensi. TEMPO hanya menyebut buku Diane Francis (Bre-X: The Inside Story) atau The Bre-X Fraud karya Douglas Goold dan Andrew Willis. Cuplik-mencuplik alias studi literatur yang diklaim sebagai karya investigatif inilah yang sempat dikritik Agus Sopian dari Majalah PANTAU. Dalam salah satu tulisannya yang menyoroti investigasi TEMPO terhadap pemerkosaan Mei 1998 yang dipenuhi studi literatur, Sopian menulis begini: Saya tidak tahu, apakah studi literatur itu merupakan apologi Tempo atas kekurangmampuannya untuk juga mengungkapkan siapa korban, pelaku, dan lebih penting lagi otak di balik tragedi kemanusiaan yang memantik kemarahan masyarakat internasional itu. Namun, TEMPO terus memperbaiki diri. Kini, harus diakui, mereka telah meninggalkan media massa lain di Indonesia. Ini tentu saja tidak bisa dibuat patokan bagi kemajuan jurnalisme investigatif di Indonesia. Pasalnya, menurut Bondan, “Yang lain masih belum menunjukkan gigi mereka. Kalau kita mandeg ketika yang lain maju, secara realitas sebetulnya kita mundur.” Bondan benar. Sepuluh tahun terakhir taring reportase investigasi kita masih belum terasah. Di rak-rak toko buku, hari-hari ini publik digempur buku-buku hasil reportase investigasi para jurnalis Amerika Serikat.

Sebut saja Blood Money karya T. Christian Miller, Devil’s Game karya Robert Dreyfus, House of Bush, House of Saud karya Craig Unger. Semuanya menggali tentang kejahatan pemerintah Bush dalam perang melawan teror di Timur Tengah. Ada lagi Blind Eye karya James B. Stewart yang menelisik tentang seorang dokter yang dituduh membunuh para pasiennya. Sementara, hanya sedikit jurnalis investigatif Indonesia yang membukukan karyanya. Selain Bondan dengan investigasi skandal Busang, baru ada George Junus Aditjondro dengan investigasinya mengenai harta kekayaan tokoh-tokoh rezim orde baru. Terbaru, Aditjondro merilis buku Korupsi Kepresidenan (2006) yang merupakan kumpulan artikel reportasenya yang menyelidik.Ironisnya, sama seperti Bondan, Aditjondro juga sempat kena gugat gara-gara bukunya yang berjudul Dari Soeharto ke Habibie: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari. Probosutedjo menuntut Aditjondro membayar Rp 500 miliar, karena merasa difitnah. Adik kandung mantan Presiden Soeharto itu keberatan dengan tudingan Aditjondro dalam buku tersebut, yang menyebut dirinya membakar hutan. “Kata-kata pribumi yang saya gunakan disebutnya hanya untuk mencari popularitas. Wah, mitra bisnis saya bisa ketakutan. Usaha saya bisa berantakan,” kata Probosutedjo kepada TEMPO. Saya tidak tahu, apakah ancaman gugatan hukum membuat jurnalisme investigatif di Indonesia melempem. Yang terang, melakoni reportase serius layaknya detektif tidaklah gampang. Perjalanan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi menyajikan potret lengkap sebuah model jurnalisme investigatif, termasuk tantangan yang dihadapinya. Sebagaimana awal sebuah reportase investigatif, buku ini dipicu oleh rasa ingin tahu sang penulis. Tanpa melihat mayat de Guzman dan hanya melakukan deduksi terhadap berita koran, Bondan sudah berani membuat tesis bahwa aksi bunuh diri sang Filipino itu palsu.Bondan tak hanya berhenti pada rasa ingin tahu (curious). Ia juga memiliki kenekatan untuk meninggalkan pekerjaannya yang mapan dalam jangka waktu panjang, hanya untuk melakukan reportase. Di lapangan, Bondan menunjukkan karakter wartawan investigatif yang gigih. Tidak semua narasumber bersedia memberi keterangan resmi kepadanya. Apalagi, ia bekerja sebagai jurnalis investigatif independen saat itu. Modalnya adalah sopan santun dan kerendahan hati dalam melakukan investigasi, sehingga banyak pihak yang bersedia bicara. Bahkan, dalam pengantar bukunya, Bondan mengaku bertemu dengan sejumlah “Deep Throats” di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi dan Bre-X.

“Deep Throats” adalah sebutan duet jurnalis Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein untuk narasumber penting yang confidential, tak mau disebut identitasnya. Istilah “Deep Throat” pertama kali muncul saat duet Woodstein membongkar skandal Watergate yang membuat Presiden AS Richard M. Nixon lengser.“Terus terang, munculnya artikel saya di The Asian Wall Street Journal tentang kasus ini membuat banyak pintu terbuka. Mereka menduga saya ahli tambang, karena tulisan itu memang cukup komprehensif,” tambah Bondan. Di media bergengsi itu, tulisan Bondan berjudul All That Glitters: The Indonesian Gold Crush terbit tanggal 24 Januari 1997. Artikel ini ditulis untuk meluruskan pemikiran Amien Rais soal penambangan emas yang melibatkan modal asing. Bondan sendiri dalam pengantarnya di buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi menyatakan, artikel itu merupakan hasil ‘meguru’ dari sejumlah ahli pertambangan.Investigasi yang dilakukan Bondan jelas makan ongkos yang tak sedikit. Itu memang salah satu risiko yang dihadapi seorang jurnalis investigatif. Dalam wawancaranya dengan wartawan PANTAU Agus Sopian, dibutuhkan uang sekitar US $ 7.500 untuk membiayai seluruh proyek bukunya. Namun risiko terbesar tentu saja libel (tuntutan atas pencemaran nama baik atau fitnah). Ini yang dialami Bondan saat berhadapan dengan Sudjana. Ia akhirnya dikalahkan di pengadilan.Sudah banyak saran kepada jurnalis kita untuk memperhatikan disiplin verifikasi, jika tak ingin kejeblok. Setiap fakta yang diperoleh harus selalu dicek ulang dengan banyak sumber, dengan banyak versi. Persoalannya, tak banyak jurnalis yang memahami disiplin verifikasi, selain memang sebagian malas untuk selalu mengecek ulang.Kedua, dengan kondisi peradilan yang korup saat ini, disiplin verifikasi tak selamanya menyelamatkan. Bondan sudah membuktikannya. Andreas Harsono, jurnalis investigatif yang tergabung dalam Investigative Reporters and Editors (IRE), menyarankan agar seorang wartawan melakukan konsultasi hukum dengan ahli hukum perdata secara benar sebelum laporannya naik cetak atau disiarkan. “Prinsip cover both side seringkali sangat membantu untuk menghindar dari jeratan tuntutan pencemaran nama baik. Dalam kasus Bondan, ia memang beberapa kali mencoba mewawacarai Sudjana, namun kurang berhasil hingga naik cetak,” kata Harsono, dalam salah satu tulisannya. Tak pelak, seorang jurnalis investigatif memang memikul beban lebih berat. “Bukan saja karena pekerjaan ini penuh risiko, tetapi juga menuntut kecerdasan di atas rata-rata,” kata Bondan.

Kamis, 28 Agustus 2008

Ekspor Gas Tangguh ke China: Masihkan Pemerintah Punya Akal Sehat dan Nurani???

Beberapa hari ini santer tersiar kabar bahwa harga jual gas alam cair (LNG) yang berasal dari blok Tangguh-Papua ke China terlalu murah yaitu pada kisaran US$ 3,4 per juta british thermal unit (MMBTU), padahal harga LNG dipasaran dunia lebih dari harga tersebut yaitu US$ 20 per MMBTU. Penentuan harga jual LNG Tangguh adalah saat pemerintahan dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri (2002) dan sampai dengan pemerintahan saat ini masih tetap dengan harga US$3,4 per MMBTU dengan masa kontrak penjualan selama 25 tahun. Dengan demikian dari tahun 2002 sampai sekarang cuma didapat US$ 600 juta, padahal dengan harga pasar saat ini mampu didapat sebesar US$ 3,6 miliar per tahun sehingga potential loss income yang diderita Indonesia mencapai US$ 75 miliar. Bahkan sekarang harga jual LNG Tangguh ke China lebih murah dibandingkan harga jual gas LPG ukuran 3 kg dari Pertamina ke masyarakat.

Temuan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI), harga jual tabung LPG ukuran 3 kg dari Pertamina ke rakyat miskin setara dengan US$ 9,9 per MMBTU sedangkan harga jual LNG ke China sebesar US$ 3,4 per MMBTU. Ajaibnya, selisih harga jual tersebut diamini oleh salah satu anggota tim negosiasi penjualan gas Tangguh. Dan Perusahaan Gas Negara (PGN) menjual gas sebesar U$S 5,5 per MMBTU kepada industri nasional. Jadi pemerintah menjual gas kepada rakyatnya sendiri lebih mahal daripada menjual ke China !!!!. (harian Kontan, kamis 28 Agustus 2008 halaman 2).

Doktrin kesejahteraan negara adalah berusaha untuk memakmurkan rakyat sebesar-besarnya, artinya negara dalam hal transaksi perdagangan dengan negara lain harus menjual produk jauh lebih mahal dibandingkan menjual ke rakyatnya sendiri. Orang waraspun pasti mengiyakan doktrin tersebut. Hal yang amat paradoksal ialah indonesia ini (baca: pemerintah), antara omongan dengan realitas sangat bertolak belakang dan nampaknya pemerintah lebih senang menyengsarakan rakyatnya dibandingkan menyejahterakan. Rasanya kita musti menanyakan kepada pemerintah, masihkan punya akal sehat dan hati nurani yang bersih ataukah saat itu kalkulator milik pemerintah Indonesia sudah rusak ??? Wallahu'alam.

Selasa, 26 Agustus 2008

Ramadhan adalah bulan solusi

Oleh Hidayat Nur Wahid

Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan 1429 H yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.

Memang, ada realitas pahit terkait dengan persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?
Ramadhan juga bulan supertrainer
Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (Al-Baqarah:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini.
Kendati demikian, terdapat beberapa klasifikasi Muslim pada bulan ini. Pertama, orang yang menanti kehadiran Ramadhan dengan suka cita, bekerja keras menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Kedua, orang yang memasuki bulan Ramadhan dan keluar darinya dengan tanpa perubahan dan tidak bertambah darinya kebajikan apa pun. Ketiga, orang yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan ini. Ia dengan khusyu melakukan ibadah dan beramal saleh. Namun bila Ramadhan usai, ia akan kembali kepada ‘habitat’-nya semula.Keempat, orang yang di bulan ini hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun tetap melakukan kemaksiatan. Kelima, orang yang menjadikan siang hari Ramadhan bagai malam dengan tidur sepanjang hari dan mengisi malamnya dengan lahwu (kegiatan yang melalaikan). Dan keenam, golongan manusia yang tidak mengenal Allah baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun meskipun ia mengaku sebagai seorang Muslim.Bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan bak madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki. Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.
Untuk itu, setiap Muslim hendaknya mengantisipasi kehadiran bulan bertaburan berkah ini dengan mempersiapkan diri, mengoptimalkan daya dan upaya meraih hari esok yang lebih baik (Al-Hasyr:18). Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.
Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Pertama, puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah Allah. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.Kedua, bulan Ramadhan yang merupakan satu bulan dari 12 bulan dalam setahun, dimuati dengan ketaatan dan taqarrub kepada Allah yang dapat memanifestasikan makna ubudiyah kepada-Nya yang paling tinggi. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud bila hanya ‘kerja keras’ di depan meja makan saat berbuka dan sahur.Ketiga, perut kenyang dalam kehidupan Muslim dapat memandulkan perasaan sehingga hati menjadi keras, menyuburkan sikap liar, dan maksiat kepada Allah dan sesama manusia. Dan ini bertentangan dengan karakter Muslim sesungguhnya. Keempat, sesungguhnya bagian dari fundamen-fundamen penting yang menyokong kebangkitan umat Islam adalah kasih sayang resiprokal dan solidaritas sosial di antara sesama Muslim.
Para the haves akan sulit menyayang orang fakir dengan kasih sayang yang jujur tanpa melewati dan menjalani keperihan dan derita kefakiran serta pahitnya kelaparan itu sendiri. Manfaat yang paling berharga yang dipetik oleh orang kaya adalah kesempatan menjadi ‘orang fakir dan miskin’ tersebut, karena ia mengalami hidup seperti itu secara riil.
Ketika solusi muraqabatullah, ketaatan, taqarrub, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi di bulan Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, sesungguhnya banyak persoalan negeri dan bangsa ini dapat diselesaikan. Di antaranya, persoalan korupsi, pembunuhan, perampokan, kenaikan BBM yang disusul dengan peristiwa terkutuk pemboman Bali jilid II dan banyak lagi penyakit-penyakit sosial lain yang terjadi di tengah masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai tersebut.
Kendati demikian, bulan Ramadhan –bila dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur– dapat menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial yang lenyap tersebut, sehingga yang diutamakan bukan hitungan rasional-matematis saja, tetapi ikut ‘merasakan’ derita dan jeritan hati rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunda atau menekan persentase kenaikan seminimal mungkin.
Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat Al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan, sekali lagi, sebagai wahana memupuk solidaritas tinggi antarumat manusia yang disempurnakan pada akhir bulan dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai manifestasi puncak solidaritas sosial tersebut. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi. Wallahu a’lam

Kamis, 21 Agustus 2008

du Toit: anda layak dapat bintang !!!

Ada satu hal yang cukup membetot pandangan saya dalam pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008 yaitu tatkala dipertandingkan lomba renang wanita 10 km (Women 10 K Marathon Swimming) dimana salah satu pesertanya adalah Natalie du Toit - perenang satu kaki (disable athlete) asal Afrika Selatan. Ya, dialah perenang wanita 10km marathon - Olimpiade Beijing, satu-satunya yang mengalami kekurangan fisik diantara 24 perenang wanita normal lainnya. Sesaat sebelum pertandingan dimulai tanpa merasa minder, dia melepas kaki palsu yang dalam keadaan tidak bertanding selalu dipakai artinya dia melakukan perlombaan renang sejauh 10 km hanya dengan kondisi satu kaki. Tentunya bukan jarak yang pendek untuk dapat bertanding renang bagi peserta cacat kaki dan dengan sekuat tenaga dia mencoba melakukan yang terbaik, namun hanya finish pada posisi ke -16.
Adalah semangat yang luar biasa seorang yang mempunyai kekurangan fisik mampu tampil di Olimpade Musim Panas (bukan Olimpiade khusus orang cacat - Paralympic). Tentunya sebelum perlombaan di Olimpiade, seseorang harus melewati babak qualifikasi terlebih dahulu. du Toit dapat berlomba di Olimpiade Beijing 2008 karena menempati posisi ke-4 pada Kejuaraan Dunia Renang Putri di Sevilla, Spanyol beberapa waktu yang lalu. "You have to set dreams, set goals and never give up" kata du Toit. Apapun yang diinginkan jika disertai kerja keras dan tentunya sikap pantang menyerah akan mampu mencapai tujuan.
Sepanjang penyelenggaraan olimpiade modern berlangsung, du Toit bukanlah satu-satunya peserta cacat (disable olympian) yang ikut bertanding dengan peserta normal lainnya. Saat Olimpiade 1924 di St Louis, Amerika Serikat adalah pesenam cacat kaki- George Eyser yang mampu memenangkan perlombaan dengan memperoleh 3 medali emas.
I worked hard to get here," kata du Toit. "I want to do everything on merit. This is not just a free ride ".
Yup, du Toit, anda peserta olimpiade sama seperti yang lainnya.

Jumat, 15 Agustus 2008

Dollar (Rupiah) Cost Averaging, Apakah Efektif?

Oleh: John David Item - Danareksa Investment Management

Sering mungkin investor mendengar rekomendasi pakar-pakar keuangan untuk menggunakan metode Dollar (Rupiah) Cost Averaging ( selanjutnya kita sebut DCA), dalam investasi mereka di pasar saham. Metode ini sering direkomendasikan untuk mengurangi risiko portofolio investor dari volatilitas pasar saham. Akibatnya, nilai portofolio investor lebih stabil, membuat mereka bisa tidur dengan tenteram.

Dengan DCA, seumpama anda sekarang memiliki Rp. 100 juta untuk diinvestasikan ke pasar saham, anda akan menginvestasikan dana ini secara ber-tahap, misalnya Rp. 2 juta per-bulan, selama 50 bulan. Atau bisa juga Rp. 10 juta per-bulan selama 10 bulan, tergantung tujuan investasi, toleransi risiko dan jangka waktu investasi anda. Sisa dananya di simpan di deposito perbankan. Lalu, kemudian anda mungkin bertanya, apakah DCA ini adalah cara terbaik untuk menginvestasikan dana Rp. 100 juta anda tersebut? Jawabannya adalah tergantung tujuan invetasi dan toleransi risiko anda. Kalau anda lebih menginginkan pertumbuhan portofolio saham yang stabil, seperti sudah dikatakan sebelumnya, DCA mungkin cocok untuk anda. Sebaliknya, jika anda ingin menghasilkan return setinggi mungkin dari pasar saham, maka DCA jelas tidak cocok untuk tujuan ini. Ingat, biar bagaimanapun prinsip investasi tidak dapat dihindarkan. Anda ingin low risk investment, maka jangan berharap relatif returnnya,secara rata-rata, akan lebih tinggi dari higher risk investment. High risk-high return, low risk-low return.
Sebagai gambaran, jika anda menginvestasikan Rp. 100 juta seluruhnya di pasar saham pada bulan Augustus 31, 2002, nilai portofolio anda pada tanggal 31 Agustus 2007 akan menjadi sekitar Rp. 529 juta, atau tumbuh sekitar 429% dalam 5 tahun!!. Dengan DCA cicilan tetap selama 5 tahun, portofolio anda akan tumbuh menjadi sekitar Rp. 347 juta, atau naik 247% di periode yang sama. Pertumbuhan dengan DCA kira-kira Rp 182 juta lebih sedikit dibandingkan jika anda langsung menginvestasikan seluruh dana awal anda di pasar saham.
Dari ilustrasi diatas bisa kita lihat bahwa biaya untuk memperoleh portofolio yang lebih stabil dalam kasus ini adalah sekitar Rp. 182 juta. Lumayan besar. Biaya ini disebut ‘opportunity cost,’ atau kesempatan yang hilang. Sebenarnya dengan menginvestasikan seluruh dana awal anda di reksadana campuran (balance funds), tujuan anda untuk memperoleh pertumbuhan portofolio yang lebih stabil dari pada investasi langsung ke pasar saham bisa tercapai. Dengan kata lain, reksadana campuran sebenarnya merupakan alternatif yang baik bagi DCA. Selain mengurangi volatilitas pasar saham, cara investasinya juga jauh lebih mudah dari DCA. DCA harus melakukan transaksi setiap bulan, sedangkan reksadana campuran hanya memerlukan transaksi di tahap awal saja. Return 5 tahun terakhir (diperiode yang sama) dari reksadana campuran juga mirip DCA, bahkan lebih baik (249% vs 247%). Padahal return DCA yang saya simulasikan diatas belum memperhitungkan biaya bid-ask spread dan entry timing cost. Dengan kata lain return DCA di periode tsb bisa lebih rendah dari 247%.
DCA merupakan metode investasi yang cukup baik, tapi mungkin bukan yang terbaik. Metode ini kurang efektif terutama di pasar yang menguat tajam seperti pasar saham Indonesia 5 tahun terakhir Selain tertinggal jauh oleh investasi saham secara langsung (lump-sum), DCA bahkan juga kalah efektif dibandingkan dengan investasi langsung ke reksadana campuran. Prinsip risk-reward di dunia investasi tidak bisa dihindarkan. Jika ingin risiko yang lebih rendah, harus siap-siap dengan reward (return) yang lebih rendah juga.

Senin, 11 Agustus 2008

Koruptor dan Mutilasi

Entah apa yang ada di benak Verry Idham Henyansyah alias ryan (penggila kaum sejenis-homoseks dan pelaku mutilasi) begitu tega melakukan 10 pembunuhan dan 1 (satu) korban yang terakhir dibunuh tanpa ampun dengan diakhiri dengan dimutilasi (dipotong-potong) setelah sebelumnya menikmati kepuasan syahwat dengan korbannya. Dan kalau kita lihat dalam tayangan TV, terpancar wajah tanpa dosa-yang tidak menampakan bahwa dia seorang mutilator sejati. Dari penjelasan sementara pihak kepolisian ternyata motif yang dia lakukan hanya masalah ekonomi, artinya melakukan pembunuhan dan melakukan mutilasi tidak lebih upaya mendapatkan harta benda dari si korban mengingat ryan adalah seorang penggangguran yang berusaha menggapai kehidupan megapolitan yang serba gemerlap agar dapat dikatakan sukses. Upaya pembunuhan dilakukan sebagai jalan pintas untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup selama di kota Jakarta.

Jalan pintas untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dalam sekejap (hedonism) nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah, contoh lain pelaku korupsi (beberapa oknum anggota DPR dan banyak oknum pemimpin daerah serta oknum jaksa) bisa kita lihat. Betapa perilaku kongkalikong yang mereka lakukan tidak hanya merugikan negara juga meruntuhkan perekonomian bangsa ini. Konon, upaya yang mereka lakukan agar bisa duduk menjadi anggota legislatif lagi dengan cara menyetor sejumlah uang dengan jumlah nol dibelakangnya mencapai 9 - 10 digit, tentunya setoran tersebut tidaklah bisa disebut kecil jumlahnya.

Adalah negara China yang menghukum mati pelaku korup yang dilakukan bagi seluruh anggota politbiro (partai komunis china) tanpa kecuali. Tercatat sudah mencapai ratusan orang koruptor di china yang mendapatkan hukuman eksekusi mati baik melalui tiang gantungan maupun ditembak mati dihadapan regu tembak dan agaknya efek dari hukuman mati itu cukup efektif menahan laju perilaku korup. Dampaknya terlihat efisiensi keuangan dan ekonomi china mengalami booming yang cukup menakjubkan.

Indonesia, agaknya patut meniru tindakan dan langkah negara china yang memperlakukan koruptor dengan hukuman mati meski dengan cara lain, misalnya dilakukan mutilasi sehingga dapat memberikan dua efek yang sangat menakutkan. Pertama, kabar akan adanya hukuman mati dan kedua, jalan hukuman mati adalah dimutilasi. Harapannya begitu mendengar adanya hukuman mati dengan jalan mutilasi akan memberikan rasa takut yang amat sangat untuk tidak korup baik yang jumlahnya kecil maupun besar sehingga dalam jangka pendek maupun panjang perilaku korup akan hilang dan dapat menghancurkan sendi-sendi ekonomi rakyat . Mutilasi bagi koruptor, mengapa tidak????

Sekadar mengingatkan bahwa pada era 1980-an, tatkala di Indonesia yang saat itu masih dipimpin oleh Presiden Suharto (dan sebagai pencetus) pernah melaksanakan operasi siluman "penembakan misterius (petrus)" yang notabene merupakan upaya pemberantasan kejahatan. Kalau kita perhatikan ternyata saat itu operasi tersebut tidak hanya menimbulkan efek kejut (shock teraphy) bagi dunia kejahatan namun menghasilkan tingkat efektifitas yang tinggi sehingga dapat menekan bahkan menghilangkan tindak kejahatan yang ada saat itu.

Senin, 30 Juni 2008

Indonesia: Tirulah Spanyol (Juara Eropa 2008)

Usai sudah kejuaraan sepak bola Euro 2008 yang akhirnya dimenangkan Tim Kesebelasan Matador (Spanyol) melawan Jerman dengan skor sangat irit 1-0. Dari awal kejuaraan yang dimulai dari babak penyisihan grup D, penampilan Spanyol sangat mengesankan, tak pernah kalah dengan agregat kemenangan diatas 2. Tim besutan pelatih Luis Aragones yang dijaga oleh kiper Iker Casillas hanya kemasukan 4 gol yang merupakan terkecil kebobolan gol dibanding tim negara lainnya dan terakhir sukses menghempaskan Jerman yang notabene saat itu banyak para pengamat sampai penggila judi sepak bola memprediksi Jerman akan mampu menggulung Spanyol. Ritme permainan menyerang yang mereka sungguhkan enak untuk ditonton, mulai dari babak penyisihan sampai dengan partai final. Dengan dimotori oleh Xavi Hernandes, Andres Iniesta dan Cesc Fabregas yang berperan sebagai playmaker mampu mensuplai bola ke semua lini.
Ada sesuatu yang cukup menarik dengan pemain Spanyol yaitu postur tubuhnya. Berdasarkan data resmi uefa yang ada, terdapat 6 pemain (23 %) Spanyol mempunyai tinggi badan dibawah 175 cm, mereka adalah Santi Carzola (169 cm), Xavi Hernandes (170 cm), David Silva (170 cm), Andres Iniesta (170 cm), David Villa (175 cm) dan Sergio Garcia (175 cm). Selebihnya antara 175 cm - 185 cm sebanyak 56,5 % dan diatas 185 cm sejumlah 17,4 %. Dan kalau dirata-rata pemain spanyol mempunyai postur tubuh 179,61 cm atau secara umum paling pendek diantara peserta kejuaraan Euro 2008.
Postur tubuh tubuh yang relatif mungil yang mereka miliki (untuk ukuran orang-orang eropa) ternyata mereka mampu menang disemua pertandingan dan dengan aggresivitas tinggi mampu memobilisasi bola ke gawang lawan. Pada partai final itu, terlihat David Silva, Andres Iniesta dan Xavi Hernandes dengan aggresivitas tinggi mampu memberikan bola ke lini tengah dan depan meskipun seringkali mereka dihadang dan diganjal bahkan tidak jarang di-tackle oleh pemain lawan yang postur tubuhnya tinggi dan besar. Mereka juga sering maju ke depan guna mendukung serangan yang dibangun Cesc Fabregas, kemudian disodorkan kepada Fernando Torres.
Dengan postur tubuh yang demikian tidaklah menjadikan kendala bagi mereka untuk mampu tampil menyerang sepenuhnya. Artinya, dengan postur tubuh pendek bukan berarti power, speed, spirit, aggresivitas dan kekompakan mereka berkurang dan bahkan merasa inferior berhadapan dengan tim-tim negara borpostur tubuh tinggi - besar. Akhirnya seorang David Villa-pun mampu menjadi top scorer dengan mengemas 4 gol dimana saat melawan Rusia menciptakan 3 gol sekaligus. Dan Xavi Hernandes juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Euro 2008.
Lalu, apakah kemampuan pemain sepak bola Spanyol dengan tim sepakbola Indonesia layak di sejajarkan?? Kalau melihat kemiripan postur tubuh antara pemain sepak bola Spanyol dan Indonesia (rata-rata dibawah 175 cm) rasanya pemain-pemain sepak bola kita sanggup membuat prestasi yang cukup gemilang. Katakanlah, tidak musti level Asia cukup tingkat Asia Tenggara saja dulu. Haruskah pemain sepak bola kita merasa inferior terus dengan kemampuan tim sepak bola sendiri. Pemain sepak bola Spanyol saat ini cukup dikaruniai Tuhan dengan fisik yang hampir sama dengan pemain sepak bola Indonesia, berarti dengan kondisi tersebut, power, speed, aggresivitas juga sama bukan ?? Apakah kurang kompak dan kurang termotivasi? bukankah kita banyak mempunyai motivator ulung sebut saja Tung Desem Waringin, Andri Wongso dan lain-lain, mereka dapat diserahi tugas untuk memotivasi. Mereka bisa, kenapa kita gak bisa.... Ayo kamu bisa !!! Ah, jangan cuma mampu memetik kelapa dengan bola yang dijadikan alat pemetiknya (lihat iklan Extrasjoss-Bambang Pamungkas & Ponaryo Astaman beraksi).

Rabu, 18 Juni 2008

Pilih Retur Reksadana Tinggi ??? Tunggu Dulu...

Setiap akhir tahun para manajer investasi (MI) akan mengusahakan agar portofolionya menghasilkan tingkat pengembalian (return) setidaknya mencapai target yang sudah ditetapkan, syukur jika returnnya bisa melebihi target atau menjadi "juara" dengan mengalahkan return para pesaingnya. Umumnya dengan return yang tinggi, lebih mudah menjual jasa pengelolaan investasi atau reksadana dikemudian hari. Investorpun pada umumnya senang dengan return yang tinggi sehingga terkadang melupakan resiko investasi atau lebih parah lagi tidak mengetahui bahwa resiko harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi. Berdasar pengalaman penulis, ketidaktahuan investor amat wajar mengingat investor institusi pun banyak yang belum mempertimbangkan faktor resiko dengan seksama.

Sebelum kita berbicara lebih jauh, apa sebetulnya yang dimaksud dengan resiko investasi ? Dalam berinvestasi kita tentunya mempunyai harapan berapa return yang kita inginkan untuk periode waktu tertentu yang disebut expected return. Namun kenyataannya setelah periode tersebut, actual return atau return yang sesungguhnya kita terima belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan, bisa lebih besar bisa pula lebih kecil. Melesetnya actual return terhadap expected return inilah yang disebut resiko. Makin besar meleset maka makin besar pula resikonya. Dalam statistik resiko ini diukur dengan standard deviasi.

Berikut ini ilustrasi sederhana dengan mengambil contoh investasi pada reksadana, namun kegunaan atau penerapannya tidak terbatas pada investasi reksadana saja tetapi berlaku untuk semua investasi seperti pemilihan saham / obligasi yang anda lakukan sendiri. Tujuan dari ilustrasi ini adalah menjelaskan mengapa kita perlu memperhatikan resiko disamping melihat return.

Apabila anda mempunyai dana lebih untuk investasi misalkan pada reksadana, tentunya anda dihadapkan pada banyak pilihan reksadana yang dikelola oleh berbagai manajer investasi. Langkah pertama yang umumnya dilakukan investor adalah melihat daftar Nilai Aktiva Bersih (NAB) per Unit Pernyertaan (UP) atau semacam "harga" reksadana yang diterbitkan di koran setiap hari. Pada daftar tersebut tercantum juga return 30 hari terakhir dan return 1 tahun terakhir. Secara logis anda akan tertarik pada reksadana yang memberikan return tertinggi atau dalam kisaran tertinggi, misalkan 5 reksadana return tertinggi. Nah, dari situlah anda memilih mana yang terbaik atau sesuai dengan tujuan investasi anda.

Sebetulnya langkah tersebut tidak salah, namun belum lengkap bila anda tidak memperhatikan resiko. Misalkan anda mengamati ada 2 manajer investasi yang mengelola reksadana A dan B yang mana manajer investasi A menghasilkan return rata-rata 20% per tahun selama lima tahun terakhir dan kita percaya tahun depan kinerjanya masih konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain itu ada pilihan manajer investasi B yang menghasilkan return rata-rata 15% per tahun selama lima tahun terakhir dan kita juga percaya tahun depan kinerjanya masih konsisten seperti sebelumnya. Pertanyaannya manajer investasi manakah yang anda inginkan untuk mengelola uang anda selama setahun kedepan ?

Bila kita melihat hanya return saja maka tampaknya pertanyaan diatas seperti pertanyaan bodoh. Namun sebetulnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan kritis yang perlu ditelaah lebih lanjut. Caranya dengan melihat kinerja historis dari tahun ketahun untuk kedua manajer investasi tersebut. Manajer investasi A mempunyai kinerja dalam lima tahun terakhir seperti ilustrasi 1 sbb :

Manajer Investasi A

Tahun ke-1 menghasilkan return sebesar 40 %

Tahun ke-2 menghasilkan return sebesar 50 %

Tahun ke-3 menghasilkan return sebesar -20%

Tahun ke-4 menghasilkan return sebesar 60%

Tahun ke-5 menghasilkan return sebesar 30%

Tampak bahwa kinerja manajer investasi A berfluktuasi. Pada tahun pertama dana kelolaannya naik 40% dan tahun kedua naik 50% selanjutnya turun 20% namun tahun keempat naik 60%, kemudian tahun kelima turun 30%. Secara keseluruhan rata-rata kinerja manajer investasi A adalah 20% ( jumlahkan kinerja lima tahun tersebut dan bagilah dengan 5 ).

Sedangkan manajer investasi B yang mempunyai kinerja rata-rata 15% dengan catatan prestasi seperti ilustrasi 2 sbb.

Manajer Investasi B

Tahun ke-1 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-2 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-3 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-4 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-5 menghasilkan return sebesar 15 %

Terlihat disini manajer investasi B lebih konsisten kinerjanya. Namun tetap saja return-nya dibawah return manajer investasi A. Kalau begini keadaannya apakah salah, bila investor memilih manajer investasi A ? Bukankah manajer investasi A menghasilkan uang yang lebih banyak ? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dihitung berapa uang yang bisa dihasilkan masing-masing manajer investasi dengan cara mengasumsikan uang sebesar masing-masing Rp. 100 sebagai modal awal yang dikelola oleh kedua manajer investasi tersebut. Dana awal Rp. 100 ditahun pertama dikelola manajer investasi A akan menjadi Rp. 140 ( = Rp. 100 x 1.40) sedangkan dengan manajer investasi B dana awal Rp. 100 menjadi Rp. 115 ( = Rp. 100 x 1.15 ). Pada tahun kedua, dana kelolaan sebesar Rp. 140 di manajer investasi A naik 50% menjadi Rp. 210 (= Rp. 140 x 1.50) sedangkan dana kelolaan manajer investasi B pada tahun kedua naik 15% menjadi Rp. 132.3 (= Rp. 115 x 1.15 ) . Demikian seterusnya kita selesaikan perhitungan hingga akhir tahun kelima. Hasil dari pengelolaan kedua manajer investasi disajikan pada ilustrasi sebagai berikut :

Manajer Investasi A

Tahun ke-1 , return sebesar 40 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 140

Tahun ke-2 , return sebesar 50 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 210

Tahun ke-3 , return sebesar -20% , hasil pengelolaan sebesar Rp 168

Tahun ke-4 , return sebesar 60% , hasil pengelolaan sebesar Rp 268,8

Tahun ke-5 , return sebesar 30% , hasil pengelolaan sebesar Rp 188,2

Manajer Investasi B

Tahun ke-1 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 115

Tahun ke-2 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 132,3

Tahun ke-3 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 152,1

Tahun ke-4 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 174,9

Tahun ke-5 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 201,1

Tampak disini hasil kelolaan manajer investasi B (Rp. 201,1) lebih tinggi dibanding manajer investasi A (Rp. 188,2). Dengan demikian investor seharusnya memilih manajer investasi B yang sekilas tampak "hanya" memberikan return 15% saja.

Dari sini kita bisa menarik paling tidak tiga pelajaran yaitu :
  1. Untuk menghitung return, gunakanlah geometric return yang mengukur berapa Rp. yang dihasilkan. Jangan menggunakan arithmetic return atau rata-rata return tahunan. Bila kita menghitung return manajer investasi A dengan geometric return maka hasilnya adalah 13.48% yang didapat dari rumus [((1+r1)*(1+r2)*(1+r3)*(1+r4).*(1+rn))^(1/n)]-1 . Atau dengan kata lain bila dana awal Rp. 100 dikelola oleh manajer investasi A selama lima tahun dengan return konsisten sebesar 13.48% maka pada akhir tahun kelima hasilnya adalah Rp. 188.2 seperti terlihat di tabel. Singkat kata return sebenarnya bukan 20% seperti yang dia klaim,
  2. Selain perhitungan return, perhatikan resiko yang dinyatakan dari konsistensi return. Semakin konsisten kinerjanya semakin kecil resikonya. Apa jadinya bila investor menginvestasikan dana misalnya pada awal tahun kelima, investor tersebut akan kehilangan 30% dananya. Dengan manajer investasi yang volatil kinerjanya kita tidak tahu kapan saat yang menguntungkan untuk berinvestasi,
  3. Sebelum memilih manajer investasi, asumsikan hal terburuk yang bisa terjadi dengan berinvestasi pada tahun terburuk dan lihat apakah kita sanggup menerima resiko sebesar itu. Masih banyak lagi yang harus diperhatikan selain faktor resiko dan return seperti siapa tim manajer investasi, bagaimana pengambilan suatu keputusan investasi, bagaimana kredibilitas perusahaan / grup afiliasinya, kebijakan investasinya, peraturan perpajakan dan masih banyak lagi informasi yang bisa digali dari prospectus, company profile dan laporan tahunan ( annual report ). Namun dengan memperhatikan return dan resiko setidaknya kita bisa menghindari potensi kerugian apabila ada manajer investasi atau agen penjual yang menyembunyikan kinerjanya dibalik return yang " tinggi "

sumber: Parto Kawito - pengamat pasar modal

Jumat, 06 Juni 2008

Osama Bin Laden Vs Munarman

Munarman, S.H (Panglima Komando Laskar Islam- Monas Berdarah) mendadak jadi ngetop bak selebritis nomor wahid di negeri ini. Hampir tiap hari nama dan fotonya terpampang dikoran dan TV, plus dapat cap baru sebagai orang paling dicari (DPO) oleh Mabes Polri alias buronan. Mantap !!...... Iseng-iseng saya coba bandingkan popularitas antara Munarman dengan Osama bin Laden (The Most Wanted) melalui search engine - Google, hasil penulusuran menghasilkan 22.700 kata-kata - Munarman - dalam 10 website, sebaliknya menghasilkan 13.700.000 kata-kata - Osama bin Laden- dalam 10 website (coba anda bandingkan). Jelas si Osama jauh lebih ngetop dibandingkan Munarman sekalipun menyandang status yg sama - DPO. Tapi, apa hubungannya Munarman dengan Osama bin Laden?
Ada hal cukup menggelitik untuk membandingkan antara keduanya. Ternyata, Munarman menggunakan cara-cara yang serupa dengan Osama bin Laden yaitu memberikan pernyataan melalui e-mail dan video yang dikirimkan ke media pemberitaan baik media massa maupun TV tanpa diketahui dimana persembunyiannya. Al Jazeera TV adalah langganan media berita untuk mempublikasikan video pernyataan Osama bin Laden. Sedangkan ANTV menerima kiriman video pernyataan Munarman tentang keinginan dirinya akan segera menyerahkan diri ke polisi jika pemerintah sudah mengeluarkan larangan Ahmadiyah dan redaksi detik.com mendapat kiriman e-mail dari orang yang mengaku sebagai munarman yang isinya antara lain permintaan untuk melarang beroperasinya laboratorium Namru-2 milik Amerika Serikat. Dari keduanya dapat ditarik benang merah bahwa eksistensi mereka masih ada/hidup meski secara fisik tak nampak sehingga masih layak untuk terus diburu. Rumor yang ada bahwa Munarman dijemput (baca:diculik) oleh 3 orang berjenggot yang entah siapa mereka.
Hmm, budaya tiru-meniru demikian agaknya sudah diikuti oleh orang Indonesia tetapi apakah cara-cara suicide bomb seperti di palestina dan irak akan juga diikuti??? Jangan sampai deh.....

Jumat, 30 Mei 2008

Who's Lakshmi Mittal

Agaknya keinginan Lakshmi Mittal dengan ArcelorMittal-nya untuk bisa membeli 49% kepemilihan saham PT Krakatau Steel (PT KS) melalui opsi Strategic Partners akan tertunda. Dus, bukan rahasia lagi keinginan tersebut banyak ditentang oleh berbagai kalangan khususnya DPR dengan mengingatkan kalaupun PT KS harus dijual (privatisasi) harus melalui IPO dengan alasan lebih menguntungkan jikalau dilihat dari kepentingan nasional. Sedangkan pemerintah menghendaki PT KS tetap dijual kepada ArcelorMittal dengan opsi tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa PT KS adalah industri besi baja plat merah (BUMN) yang memproduksi segala macam baja berbagai bentuk dan baru 2 tahun ini menunjukan kinerja bagus, berarti sejak berdiri 1970 belum (tidak) pernah menunjukan kinerja positip alias menghasilkan profit dan selama 20 tahun terakhir hanya mampu memproduksi baja sebanyak 2,5 juta ton. Tercatat beberapa perusahaan yang berminat untuk membeli PT KS antara lain Bluesope,Essar,TataSteel, AncelorMittal. Tiga perusahaan baja yang terakhir adalah dimiliki oleh orang India. Adalah menarik untuk mengetahui siapa Lakshmi Mittal, Presiden SBY-pun meluangkan waktu khusus untuk menerimanya di Istana Negara.
Lakshmi Mittal adalah pemilik Ispat Industries Limited (Ispat Group), Mittal Steel Company NV (MSC NV) sekaligus presiden dan CEO ArcelorMittal - Industri baja terpadu terbesar dunia dengan menghasilkan Flat Steel products, Coated Steel, Tubes dan Pipes dengan kantor pusat di 19, avenue de la Liberte, Luxembroug City, Luxembroug. Sedangkan Inspat Group adalah perusahaan baja yang didirikan tahun 1952 di Calcutta, India dan MSC NV juga perusahaan baja dengan kepemilikan saham keluarga Mittal sebesar 80% dengan kantor pusat di Rotterdam, Belanda. Pada 25 Juni 2002, ArcelorMittal didirikan dan merupakan hasil merger Mittal Steel dengan Arcelor.
Ispat Industries Limited (Ispat Group)
Tahun 1952, didirikanlah Ispat Group - perusahaan baja pertama yang didirikan Lakshmi Mittal di Calcutta, India - dengan menghasilkan besi dan baja dan pada tahun 1974 melakukan ekspansi ke Indonesia dengan mendirikan PT Ispat IndoSteel di Sidoarjo, Jawa Timur yang memproduksi baja dengan kapasitas hampir 700.000 ton pertahun dan pada tahun 1991 mendirikan PT Ispat Wire Products dengan lokasi masih di Sidoarjo, memproduksi paku baja dan juga didirikan PT. Ispat Panca Putera di Gresik dengan kapasaitas produksi 300.000 ton per tahun yang menghasilkan baja berbentuk batangan serta pada tahun 1994 didirikan PT. Ispat Bukit Baja berlokasi di Bekasi, Jawa Barat yang khusus menproduksi pelat baja dan turunannya. Oh ya, Ispat - bahasa hindi - artinya baja.
Ispat industries Limited sendiri saat ini masih eksis di Calcuta India dengan 3000 karyawan dan kapasitas produksi hampir 4 juta ton per tahun. Hasil produksi antara lain Sponge Iron, Hot Rolled Coil, Cold Rolled Coil, Galvanized Sheet dan Colour Coated Sheets.
Mittal Steel Company NV (MSC NV)
Mittal Steel Company NV merupakan hasil dari akuisisi Ispat Group terhadap LNM Holding NV-Roterdam, Belanda dan Ispat Group menguasai 80% kepemilikan saham. Saat ini MSC NV dikendalikan oleh salah satu anak Lakshmi Mittal yaitu Aditya Mittal - lulusan dari Wharton School of The University of Pennsylvania tahun 1996 dengan predikat magna cum laude -. Pada tahun 2005 menghasilkan revenue sebesar US$ 28,132 milyar dengan operating income sebesar US$ 7,746 milyar serta net income US$ 3,365 milyar. Sedangkan MSC NV plus ArcelorMittal mempekerjakan hampir 320.000 pegawai di lebih dari 60 negara. Ditahun 1989, MSC NV melakukan langkah-langkah strategi bisnis dengan melakukan banyak akuisisi industri baja didunia, yaitu:
1989: Acquisition of Iron & Steel Company of Trinidad & Tobago
1992: Acquisition of Sibalsa
1994: Acquisition of Sidbec-Dosco
1995: Acquisitions of Hamburger Stahlwerke, which formed Ispat International Ltd. and Ispat Shipping, and Karmet
1997: Acquisitions of Walzdraht Hochfeld GmbH and Stahlwerk Ruhrort
1997: Ispat International NV goes public
1998: Acquisition of Inland Steel Company
1999: Acquisition of Unimétal
2001: Acquisitions of ALFASID and Sidex
2002: Business assistance agreement signed with Iscor
2003: Acquisition of Nova Hut
2004: Acquisitions of Polskie Huty Stali, BH Steel, Macedonian facilities from Balkan Steel. Creation of Mittal Steel and prosposed acquisition of International Steel.
2005: Hire Deloitte as the primary auditors for the company
2005: Acquisition of International Steel Group
2005: Acquisition of Kryvorizhstal
2005: Investment of $9 billion in Jharkhand, India announced
2006: Merger with Arcelor announced and completed after much controversy
2006: Investment for 12 million tonnes capacity steel plant announced in Orissa, India

ArcelorMittal Group (AMG)

Pada 25 Juni 2002, Mittal Steel Company NV (MSC NV) melakukan merger dengan Arcelor SA -industri baja yang merupakan hasil merger dari Aceralia (Spanyol), Usinor (Perancis) and Arbed (Luksembrug) - dengan membentuk nama baru yaitu ArcelorMittal.

Lakshmi Mittal (pemilik Mittal Steel Company NV) bertindak sebagai Presiden sekaligus CEO. Keluarga Mittal menguasai saham di ArcelorMittal sebesar 43,6% (US$ 33 milyar) dan sebagai pemegang saham mayoritas. Pada tahun 2007, AM menghasilkan revenue sebesar US$ 105,2 milyar dengan opreating income sebesar US$ 10 milyar. Saat ini AMG tercatat dibeberapa bursa saham dunia antara lain: New York Stock Exchange (NYSE), Luxembroug Stock Exchange (LuxSE), Madrid Stock Exchange (BMAD), Pan-European Stock Exchange (Euronext) dan sampai dengan bulan mei 2008 berkapitalisasi dipasar modal sebesar US$ 144,37 milyar. Dengan kapasitas produksi baja sebesar 116 juta ton per tahun, AMG merupakan pemimpin pasar industri baja di dunia dengan menguasai 10% produk baja dunia dan jumlah pekerja mencapai 320.000 orang - termasuk pekerja Mittal Steel Compay NV - yang tersebar di 60 negara. Produk dari AM terbagi dalam tiga grup yaitu: Flat steel products, Long steel products and Stainless steel.

Struktur Dewan Manajemen ArcelorMittal Group adalah sebagai berikut

Lakshmi N. Mittal as Chairman and CEO (Responsible for Shared Services, Human Resources, Marketing and Commercial Coordination, Health and Safety, Global Trade Policy, Steel Contact Groups, Associations and Mandates, International Affairs, Internal Assurance, GMB Secretary)

Aditya Mittal as CFO and Member of the Group Mangement Boar (Chair of Corporate Finance and Tax Committee Responsible for Mergers and Acquisitions (M&A) and Business Development (projects and India), Flat Americas, Strategy, Investor Relations, Communications)

Michel Wurth, as Member of the Group Management Board ( Responsible for Flat Europe, Steel Solutions and Services, Product Development and R&D, Global Customers & Automotive, Plates, Packaging)

Gonzalo Urquijo, as Member of the Group Management Board (Responsible for Long Products (LCE (*), LCA), China, Stainless, Tubular Products, Corporate Responsibility, ArcelorMittal Foundation, Investment Allocation Committee (IAC) Chairman )

Sudhir Maheshwari, as Member of the Group Management Board ( Responsible for M&A and Business Development, India, Alternate Chairman of Corporate Finance and Tax Committee )

Christophe Cornier, as Member of the Group Management Board ( Responsible for Asia, Africa, India, CTO, Steel Greenfield Projects Execution, Project Manufacturing, IAC member ) Davinder Chugh, as Member of the Group Management Board (Responsible for Shared Services*, IAC member)

Sujogya Dash as Secretary to the Group Management Board:

100 Universitas dan Kolej Terbaik di Asia

Dibawah ini terdapat 100 universitas dan kolej terbaik di Asia yang saya peroleh dari 4icu.org (last update 3 April 2008) dan ternyata hanya terselip satu perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam peringkat 100 terbaik se Asia
1. Keio University - Jepang
2. National University of Singapore - Singapura
3. University of Hong Kong - Hongkong
4. National Taiwan University - Taiwan
5. The University of Tokyo - Jepang
6. Hebrew University of Jerusalem - Israel
7. Tel Aviv University - Israel
8. Ben-Gurion University of the Negev - Israel
9. Peking University - China
10. Tsinghua University - China
11. University of Haifa - Israel
12. Nanyang Technological University - Singapura
13. Korea University - Korea Selatan
14. Technion - Israel Insitute of Technology - Israel
15. University of Science and Technology of China - China
16. Weizmann Institute of Science - Israel
17. Xi'an Jiaotong University - China
18. United Arab Emirates University - Uni Emirate Arab
19. Chinese University of HongKong - Hongkong
20. The Hong Kong Polytechic University - Hongkong
21. City University of Hong Kong - Hongkong
22. Orta Dogu Teknik Univertesi - Turki
23. National Chiao Tung University - Taiwan
24. Hong Kong University of Science and Technology - Hongkong
25. Chulalongkorn University - Thailand
26. Thammasat University - Thailand
27. Mahidol University - Thailand
28. Hong Kong baptist University - Hongkong
29. Institut Teknologi Bandung - Indonesia
30. Bilkent Univeritesi- Turki
31. National Chengchi University - Taiwan
32. Istanbul Teknik Universitesi - Turki
33. Birzeit University - Palestina
34. Universidade de Macau - Macau
35. Shanghai Jiao Tong University - China
36. Singapore Management University - Singapura
37. Universiti Teknologi Mara - Malaysia
38. Bogazici Universitesi - Turki
39. National Tsinghua University - Taiwan
40. Indian Institute of Technology, Madras - India
41. Indian Institute of Technology, Kanpur - India
42. Fudan University - China
43. Kyoto University - Jepang
44. King Saud University - Saudi Arabia
45. Kuwait University - Kuwait
46. University of Jordan - Yordania
47. Panepistimio Kyprou - Siprus
48. Kasetsart University - Thailand
49. Indian Institue of Technology Bombay - India
50. University of Qatar - Qatar
51. Bar-Ilan University - Israel
52. Khon Khaen University - Thailand
53. Universiti Putra Malaysia - Malaysia
54. Osaka University - Jepang
55. Nanjing University - China
56. Universiti Teknologi Malaysia - Malaysia
57. Nihon University - Jepang
58. Tohoku University - Jepang
59. University of Tsukuba - Jepang
60. Nagoya University - Jepang
61. Japan Advanced Institute of Science and Technology - Jepang
62. Asian Institute of Technology - Thailand
63. Hokkaido University - Jeoang
64. Zhejiang University - China
65. Universiti Malaya - Malaysia
66. Tokyo Institute of Technology - Jepang
67. Prince of Songkla University - Thailand
68. Kyushu University - Jepang
69. National Cheng Kung University - Taiwan
70. Korean Advanced Institute of Science & Technology - Korea Selatan
71. Dai Hoc Bach Khoa - Vietnam
72. Truong Dai Hoc Bach Khoa Hanoi - Vietnam
73. Higher Colleges of Technology - Uni Emirat Arab
74, American University of Beirut - Lebanon
75. Indian Institute of Technology, New Delhi - India
76. Hiroshima University - Jepang
77. Kobe University - Jepang
78. Dai Hoc Khoa Hoc Tu Nhien - Vietnam
79. Tamkang University - Taiwan
80. King Adul Aziz University - Saudi Arabia
81. Delhi Vishwavidyala - India
82. Waseda University - Jepang
83. National Sun Yat-Sen University - Taiwan
84. The University of Electro-Communications - Jepang
85. Nankai University - China
86. Harbin Institute of Technology - China
87. Anna University - India
88. Beihang University - China
89. Universiti Kebangsaan Malaysia - Malaysia
90. University of Tehran - Iran
91. Indian Institute of Science - India
92. Huazhong University of Science and Technology - China
93. Al-Jamiaa Al-Islamiya - Palestina
94. An-Najah National Universtity - Palestina
95. Al-Quds University - Palestina
96. Jordan University of Science and Technology - Yordania
97. De La Saile University - Filipina
98. Tokyo University of Science - Jepang
99. University of Mumbai - India
100. Ewha Women's University - Korea Selatan.
Note:

4icu.org Web Popularity Ranking Methodology

Universities and Colleges are sorted by our exclusive 4icu.org Web Popularity Ranking. The ranking is based upon an algorithm including three unbiased and independent web metrics: Google Page Rank, total number of inbound links and Alexa Traffic Rank. The aim of this website is to provide an approximate and relative popularity index of world-wide Universities and Colleges based upon the popularity of their website. This can especially help international students to understand how popular a specific University or College is in a foreign country. We do not, by any means, claim to rank organisations, or their programs, by the quality of education or level of services provided.

Information updates

Data and information are added or updated on a monthly basis. The 4icu.org Web Popularity Ranking is updated every six months.