Akhir-akhir ini banyak diperoleh kabar adanya aksi teror terhadap Jamaah Ahmadiyah, khususnya merusak dan membakar asset milik ahmadiyah terutama masjid, seperti yang terjadi pada masjid ahmadiyah di Sukabumi-Jawa Barat. Padahal, kita mengerti dan paham betul bahwa masjid adalah rumah Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara untuk kemaslahatan umat.
Jujur saja, saya pribadi, sependapat dengan Majelis Umat Islam (MUI) yang menyataan bahwa ajaran ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keyakinan Ahmadiyah telah menyimpang jauh dari akidah pokok Islam. Berdasarkan keyakinan mereka bahwa pertama, meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi/Rasul setelah Muhammad SAW dan menyatakan siapa yang tidak mempercayainya adalah kafir. Kedua, mereka mempunyai kitab suci sendiri yaitu Tadzkirah. Ketiga, kalangan ahmadiyah mempunyai tempat suci sendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu di Rabwah dan Qadiyan - India bukan Makkah-Arab Saudi. (sumber:www.perpustakan-islam.com). Dan berdasarkan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, setelah dilakukan pengkajian terhadap keyakinan ahmadiyah menghasilkan kesimpulan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad SAW bukan nabi terakhir.
Selama hampir 23 tahun, Muhammad SAW menyebarkan ajaran agama islam dengan cara-cara yang santun ditengah-tengah kaum jahiliyah. Bermacam-macam perlakuan entah kekerasan fisik maupun psikis yang telah menimpa Rasullalah SAW dan tidak serta merta dibalas dengan kekerasan pula. Walaupun demikian, dengan sabar dan penuh kasih sayang, beliau tetap menyampaikan risalah dari Allah SWT tersebut.
Islam adalah agama rahmatan lil a'lamin - yang mengajarkan kepada kita untuk memberi rahmat bagi Alam Semesta, tidak hanya rahmat bagi manusia tetapi bagi dunia dengan segala isinya. Artinya mengajarkan juga kepada kita untuk cinta dan damai dalam bertindak dan berperilaku kepada mereka yang mempunyai perbedaan sekalipun. Islam bukanlah pula agama kekerasan dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan ini. Lantas, masihkah kita perlu membakar dan menghancurkan masjid milik ahmadiyah sebagai balasan atas penyimpangan ajarannya? Bukankah akan lebih baik membimbing mereka untuk kembali kedalam ajaran islam yang benar dengan tetap menggunakan masjid tersebut sebagai tempat beribadah dan berdakwah? Tidakkah kita berfikir bahwa yang sesat adalah ajarannya bukanlah masjid yang mereka bangun dan mereka gunakan selama ini?

