Kamis, 28 Agustus 2008

Ekspor Gas Tangguh ke China: Masihkan Pemerintah Punya Akal Sehat dan Nurani???

Beberapa hari ini santer tersiar kabar bahwa harga jual gas alam cair (LNG) yang berasal dari blok Tangguh-Papua ke China terlalu murah yaitu pada kisaran US$ 3,4 per juta british thermal unit (MMBTU), padahal harga LNG dipasaran dunia lebih dari harga tersebut yaitu US$ 20 per MMBTU. Penentuan harga jual LNG Tangguh adalah saat pemerintahan dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri (2002) dan sampai dengan pemerintahan saat ini masih tetap dengan harga US$3,4 per MMBTU dengan masa kontrak penjualan selama 25 tahun. Dengan demikian dari tahun 2002 sampai sekarang cuma didapat US$ 600 juta, padahal dengan harga pasar saat ini mampu didapat sebesar US$ 3,6 miliar per tahun sehingga potential loss income yang diderita Indonesia mencapai US$ 75 miliar. Bahkan sekarang harga jual LNG Tangguh ke China lebih murah dibandingkan harga jual gas LPG ukuran 3 kg dari Pertamina ke masyarakat.

Temuan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI), harga jual tabung LPG ukuran 3 kg dari Pertamina ke rakyat miskin setara dengan US$ 9,9 per MMBTU sedangkan harga jual LNG ke China sebesar US$ 3,4 per MMBTU. Ajaibnya, selisih harga jual tersebut diamini oleh salah satu anggota tim negosiasi penjualan gas Tangguh. Dan Perusahaan Gas Negara (PGN) menjual gas sebesar U$S 5,5 per MMBTU kepada industri nasional. Jadi pemerintah menjual gas kepada rakyatnya sendiri lebih mahal daripada menjual ke China !!!!. (harian Kontan, kamis 28 Agustus 2008 halaman 2).

Doktrin kesejahteraan negara adalah berusaha untuk memakmurkan rakyat sebesar-besarnya, artinya negara dalam hal transaksi perdagangan dengan negara lain harus menjual produk jauh lebih mahal dibandingkan menjual ke rakyatnya sendiri. Orang waraspun pasti mengiyakan doktrin tersebut. Hal yang amat paradoksal ialah indonesia ini (baca: pemerintah), antara omongan dengan realitas sangat bertolak belakang dan nampaknya pemerintah lebih senang menyengsarakan rakyatnya dibandingkan menyejahterakan. Rasanya kita musti menanyakan kepada pemerintah, masihkan punya akal sehat dan hati nurani yang bersih ataukah saat itu kalkulator milik pemerintah Indonesia sudah rusak ??? Wallahu'alam.

Selasa, 26 Agustus 2008

Ramadhan adalah bulan solusi

Oleh Hidayat Nur Wahid

Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan 1429 H yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.

Memang, ada realitas pahit terkait dengan persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?
Ramadhan juga bulan supertrainer
Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (Al-Baqarah:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini.
Kendati demikian, terdapat beberapa klasifikasi Muslim pada bulan ini. Pertama, orang yang menanti kehadiran Ramadhan dengan suka cita, bekerja keras menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Kedua, orang yang memasuki bulan Ramadhan dan keluar darinya dengan tanpa perubahan dan tidak bertambah darinya kebajikan apa pun. Ketiga, orang yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan ini. Ia dengan khusyu melakukan ibadah dan beramal saleh. Namun bila Ramadhan usai, ia akan kembali kepada ‘habitat’-nya semula.Keempat, orang yang di bulan ini hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun tetap melakukan kemaksiatan. Kelima, orang yang menjadikan siang hari Ramadhan bagai malam dengan tidur sepanjang hari dan mengisi malamnya dengan lahwu (kegiatan yang melalaikan). Dan keenam, golongan manusia yang tidak mengenal Allah baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun meskipun ia mengaku sebagai seorang Muslim.Bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan bak madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki. Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.
Untuk itu, setiap Muslim hendaknya mengantisipasi kehadiran bulan bertaburan berkah ini dengan mempersiapkan diri, mengoptimalkan daya dan upaya meraih hari esok yang lebih baik (Al-Hasyr:18). Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.
Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Pertama, puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah Allah. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.Kedua, bulan Ramadhan yang merupakan satu bulan dari 12 bulan dalam setahun, dimuati dengan ketaatan dan taqarrub kepada Allah yang dapat memanifestasikan makna ubudiyah kepada-Nya yang paling tinggi. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud bila hanya ‘kerja keras’ di depan meja makan saat berbuka dan sahur.Ketiga, perut kenyang dalam kehidupan Muslim dapat memandulkan perasaan sehingga hati menjadi keras, menyuburkan sikap liar, dan maksiat kepada Allah dan sesama manusia. Dan ini bertentangan dengan karakter Muslim sesungguhnya. Keempat, sesungguhnya bagian dari fundamen-fundamen penting yang menyokong kebangkitan umat Islam adalah kasih sayang resiprokal dan solidaritas sosial di antara sesama Muslim.
Para the haves akan sulit menyayang orang fakir dengan kasih sayang yang jujur tanpa melewati dan menjalani keperihan dan derita kefakiran serta pahitnya kelaparan itu sendiri. Manfaat yang paling berharga yang dipetik oleh orang kaya adalah kesempatan menjadi ‘orang fakir dan miskin’ tersebut, karena ia mengalami hidup seperti itu secara riil.
Ketika solusi muraqabatullah, ketaatan, taqarrub, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi di bulan Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, sesungguhnya banyak persoalan negeri dan bangsa ini dapat diselesaikan. Di antaranya, persoalan korupsi, pembunuhan, perampokan, kenaikan BBM yang disusul dengan peristiwa terkutuk pemboman Bali jilid II dan banyak lagi penyakit-penyakit sosial lain yang terjadi di tengah masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai tersebut.
Kendati demikian, bulan Ramadhan –bila dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur– dapat menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial yang lenyap tersebut, sehingga yang diutamakan bukan hitungan rasional-matematis saja, tetapi ikut ‘merasakan’ derita dan jeritan hati rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunda atau menekan persentase kenaikan seminimal mungkin.
Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat Al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan, sekali lagi, sebagai wahana memupuk solidaritas tinggi antarumat manusia yang disempurnakan pada akhir bulan dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai manifestasi puncak solidaritas sosial tersebut. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi. Wallahu a’lam

Kamis, 21 Agustus 2008

du Toit: anda layak dapat bintang !!!

Ada satu hal yang cukup membetot pandangan saya dalam pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008 yaitu tatkala dipertandingkan lomba renang wanita 10 km (Women 10 K Marathon Swimming) dimana salah satu pesertanya adalah Natalie du Toit - perenang satu kaki (disable athlete) asal Afrika Selatan. Ya, dialah perenang wanita 10km marathon - Olimpiade Beijing, satu-satunya yang mengalami kekurangan fisik diantara 24 perenang wanita normal lainnya. Sesaat sebelum pertandingan dimulai tanpa merasa minder, dia melepas kaki palsu yang dalam keadaan tidak bertanding selalu dipakai artinya dia melakukan perlombaan renang sejauh 10 km hanya dengan kondisi satu kaki. Tentunya bukan jarak yang pendek untuk dapat bertanding renang bagi peserta cacat kaki dan dengan sekuat tenaga dia mencoba melakukan yang terbaik, namun hanya finish pada posisi ke -16.
Adalah semangat yang luar biasa seorang yang mempunyai kekurangan fisik mampu tampil di Olimpade Musim Panas (bukan Olimpiade khusus orang cacat - Paralympic). Tentunya sebelum perlombaan di Olimpiade, seseorang harus melewati babak qualifikasi terlebih dahulu. du Toit dapat berlomba di Olimpiade Beijing 2008 karena menempati posisi ke-4 pada Kejuaraan Dunia Renang Putri di Sevilla, Spanyol beberapa waktu yang lalu. "You have to set dreams, set goals and never give up" kata du Toit. Apapun yang diinginkan jika disertai kerja keras dan tentunya sikap pantang menyerah akan mampu mencapai tujuan.
Sepanjang penyelenggaraan olimpiade modern berlangsung, du Toit bukanlah satu-satunya peserta cacat (disable olympian) yang ikut bertanding dengan peserta normal lainnya. Saat Olimpiade 1924 di St Louis, Amerika Serikat adalah pesenam cacat kaki- George Eyser yang mampu memenangkan perlombaan dengan memperoleh 3 medali emas.
I worked hard to get here," kata du Toit. "I want to do everything on merit. This is not just a free ride ".
Yup, du Toit, anda peserta olimpiade sama seperti yang lainnya.

Jumat, 15 Agustus 2008

Dollar (Rupiah) Cost Averaging, Apakah Efektif?

Oleh: John David Item - Danareksa Investment Management

Sering mungkin investor mendengar rekomendasi pakar-pakar keuangan untuk menggunakan metode Dollar (Rupiah) Cost Averaging ( selanjutnya kita sebut DCA), dalam investasi mereka di pasar saham. Metode ini sering direkomendasikan untuk mengurangi risiko portofolio investor dari volatilitas pasar saham. Akibatnya, nilai portofolio investor lebih stabil, membuat mereka bisa tidur dengan tenteram.

Dengan DCA, seumpama anda sekarang memiliki Rp. 100 juta untuk diinvestasikan ke pasar saham, anda akan menginvestasikan dana ini secara ber-tahap, misalnya Rp. 2 juta per-bulan, selama 50 bulan. Atau bisa juga Rp. 10 juta per-bulan selama 10 bulan, tergantung tujuan investasi, toleransi risiko dan jangka waktu investasi anda. Sisa dananya di simpan di deposito perbankan. Lalu, kemudian anda mungkin bertanya, apakah DCA ini adalah cara terbaik untuk menginvestasikan dana Rp. 100 juta anda tersebut? Jawabannya adalah tergantung tujuan invetasi dan toleransi risiko anda. Kalau anda lebih menginginkan pertumbuhan portofolio saham yang stabil, seperti sudah dikatakan sebelumnya, DCA mungkin cocok untuk anda. Sebaliknya, jika anda ingin menghasilkan return setinggi mungkin dari pasar saham, maka DCA jelas tidak cocok untuk tujuan ini. Ingat, biar bagaimanapun prinsip investasi tidak dapat dihindarkan. Anda ingin low risk investment, maka jangan berharap relatif returnnya,secara rata-rata, akan lebih tinggi dari higher risk investment. High risk-high return, low risk-low return.
Sebagai gambaran, jika anda menginvestasikan Rp. 100 juta seluruhnya di pasar saham pada bulan Augustus 31, 2002, nilai portofolio anda pada tanggal 31 Agustus 2007 akan menjadi sekitar Rp. 529 juta, atau tumbuh sekitar 429% dalam 5 tahun!!. Dengan DCA cicilan tetap selama 5 tahun, portofolio anda akan tumbuh menjadi sekitar Rp. 347 juta, atau naik 247% di periode yang sama. Pertumbuhan dengan DCA kira-kira Rp 182 juta lebih sedikit dibandingkan jika anda langsung menginvestasikan seluruh dana awal anda di pasar saham.
Dari ilustrasi diatas bisa kita lihat bahwa biaya untuk memperoleh portofolio yang lebih stabil dalam kasus ini adalah sekitar Rp. 182 juta. Lumayan besar. Biaya ini disebut ‘opportunity cost,’ atau kesempatan yang hilang. Sebenarnya dengan menginvestasikan seluruh dana awal anda di reksadana campuran (balance funds), tujuan anda untuk memperoleh pertumbuhan portofolio yang lebih stabil dari pada investasi langsung ke pasar saham bisa tercapai. Dengan kata lain, reksadana campuran sebenarnya merupakan alternatif yang baik bagi DCA. Selain mengurangi volatilitas pasar saham, cara investasinya juga jauh lebih mudah dari DCA. DCA harus melakukan transaksi setiap bulan, sedangkan reksadana campuran hanya memerlukan transaksi di tahap awal saja. Return 5 tahun terakhir (diperiode yang sama) dari reksadana campuran juga mirip DCA, bahkan lebih baik (249% vs 247%). Padahal return DCA yang saya simulasikan diatas belum memperhitungkan biaya bid-ask spread dan entry timing cost. Dengan kata lain return DCA di periode tsb bisa lebih rendah dari 247%.
DCA merupakan metode investasi yang cukup baik, tapi mungkin bukan yang terbaik. Metode ini kurang efektif terutama di pasar yang menguat tajam seperti pasar saham Indonesia 5 tahun terakhir Selain tertinggal jauh oleh investasi saham secara langsung (lump-sum), DCA bahkan juga kalah efektif dibandingkan dengan investasi langsung ke reksadana campuran. Prinsip risk-reward di dunia investasi tidak bisa dihindarkan. Jika ingin risiko yang lebih rendah, harus siap-siap dengan reward (return) yang lebih rendah juga.

Senin, 11 Agustus 2008

Koruptor dan Mutilasi

Entah apa yang ada di benak Verry Idham Henyansyah alias ryan (penggila kaum sejenis-homoseks dan pelaku mutilasi) begitu tega melakukan 10 pembunuhan dan 1 (satu) korban yang terakhir dibunuh tanpa ampun dengan diakhiri dengan dimutilasi (dipotong-potong) setelah sebelumnya menikmati kepuasan syahwat dengan korbannya. Dan kalau kita lihat dalam tayangan TV, terpancar wajah tanpa dosa-yang tidak menampakan bahwa dia seorang mutilator sejati. Dari penjelasan sementara pihak kepolisian ternyata motif yang dia lakukan hanya masalah ekonomi, artinya melakukan pembunuhan dan melakukan mutilasi tidak lebih upaya mendapatkan harta benda dari si korban mengingat ryan adalah seorang penggangguran yang berusaha menggapai kehidupan megapolitan yang serba gemerlap agar dapat dikatakan sukses. Upaya pembunuhan dilakukan sebagai jalan pintas untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup selama di kota Jakarta.

Jalan pintas untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dalam sekejap (hedonism) nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah, contoh lain pelaku korupsi (beberapa oknum anggota DPR dan banyak oknum pemimpin daerah serta oknum jaksa) bisa kita lihat. Betapa perilaku kongkalikong yang mereka lakukan tidak hanya merugikan negara juga meruntuhkan perekonomian bangsa ini. Konon, upaya yang mereka lakukan agar bisa duduk menjadi anggota legislatif lagi dengan cara menyetor sejumlah uang dengan jumlah nol dibelakangnya mencapai 9 - 10 digit, tentunya setoran tersebut tidaklah bisa disebut kecil jumlahnya.

Adalah negara China yang menghukum mati pelaku korup yang dilakukan bagi seluruh anggota politbiro (partai komunis china) tanpa kecuali. Tercatat sudah mencapai ratusan orang koruptor di china yang mendapatkan hukuman eksekusi mati baik melalui tiang gantungan maupun ditembak mati dihadapan regu tembak dan agaknya efek dari hukuman mati itu cukup efektif menahan laju perilaku korup. Dampaknya terlihat efisiensi keuangan dan ekonomi china mengalami booming yang cukup menakjubkan.

Indonesia, agaknya patut meniru tindakan dan langkah negara china yang memperlakukan koruptor dengan hukuman mati meski dengan cara lain, misalnya dilakukan mutilasi sehingga dapat memberikan dua efek yang sangat menakutkan. Pertama, kabar akan adanya hukuman mati dan kedua, jalan hukuman mati adalah dimutilasi. Harapannya begitu mendengar adanya hukuman mati dengan jalan mutilasi akan memberikan rasa takut yang amat sangat untuk tidak korup baik yang jumlahnya kecil maupun besar sehingga dalam jangka pendek maupun panjang perilaku korup akan hilang dan dapat menghancurkan sendi-sendi ekonomi rakyat . Mutilasi bagi koruptor, mengapa tidak????

Sekadar mengingatkan bahwa pada era 1980-an, tatkala di Indonesia yang saat itu masih dipimpin oleh Presiden Suharto (dan sebagai pencetus) pernah melaksanakan operasi siluman "penembakan misterius (petrus)" yang notabene merupakan upaya pemberantasan kejahatan. Kalau kita perhatikan ternyata saat itu operasi tersebut tidak hanya menimbulkan efek kejut (shock teraphy) bagi dunia kejahatan namun menghasilkan tingkat efektifitas yang tinggi sehingga dapat menekan bahkan menghilangkan tindak kejahatan yang ada saat itu.