Oleh: John David Item - Danareksa Investment Management
Sering mungkin investor mendengar rekomendasi pakar-pakar keuangan untuk menggunakan metode Dollar (Rupiah) Cost Averaging ( selanjutnya kita sebut DCA), dalam investasi mereka di pasar saham. Metode ini sering direkomendasikan untuk mengurangi risiko portofolio investor dari volatilitas pasar saham. Akibatnya, nilai portofolio investor lebih stabil, membuat mereka bisa tidur dengan tenteram.
Dengan DCA, seumpama anda sekarang memiliki Rp. 100 juta untuk diinvestasikan ke pasar saham, anda akan menginvestasikan dana ini secara ber-tahap, misalnya Rp. 2 juta per-bulan, selama 50 bulan. Atau bisa juga Rp. 10 juta per-bulan selama 10 bulan, tergantung tujuan investasi, toleransi risiko dan jangka waktu investasi anda. Sisa dananya di simpan di deposito perbankan. Lalu, kemudian anda mungkin bertanya, apakah DCA ini adalah cara terbaik untuk menginvestasikan dana Rp. 100 juta anda tersebut? Jawabannya adalah tergantung tujuan invetasi dan toleransi risiko anda. Kalau anda lebih menginginkan pertumbuhan portofolio saham yang stabil, seperti sudah dikatakan sebelumnya, DCA mungkin cocok untuk anda. Sebaliknya, jika anda ingin menghasilkan return setinggi mungkin dari pasar saham, maka DCA jelas tidak cocok untuk tujuan ini. Ingat, biar bagaimanapun prinsip investasi tidak dapat dihindarkan. Anda ingin low risk investment, maka jangan berharap relatif returnnya,secara rata-rata, akan lebih tinggi dari higher risk investment. High risk-high return, low risk-low return.
Sebagai gambaran, jika anda menginvestasikan Rp. 100 juta seluruhnya di pasar saham pada bulan Augustus 31, 2002, nilai portofolio anda pada tanggal 31 Agustus 2007 akan menjadi sekitar Rp. 529 juta, atau tumbuh sekitar 429% dalam 5 tahun!!. Dengan DCA cicilan tetap selama 5 tahun, portofolio anda akan tumbuh menjadi sekitar Rp. 347 juta, atau naik 247% di periode yang sama. Pertumbuhan dengan DCA kira-kira Rp 182 juta lebih sedikit dibandingkan jika anda langsung menginvestasikan seluruh dana awal anda di pasar saham.
Dari ilustrasi diatas bisa kita lihat bahwa biaya untuk memperoleh portofolio yang lebih stabil dalam kasus ini adalah sekitar Rp. 182 juta. Lumayan besar. Biaya ini disebut ‘opportunity cost,’ atau kesempatan yang hilang. Sebenarnya dengan menginvestasikan seluruh dana awal anda di reksadana campuran (balance funds), tujuan anda untuk memperoleh pertumbuhan portofolio yang lebih stabil dari pada investasi langsung ke pasar saham bisa tercapai. Dengan kata lain, reksadana campuran sebenarnya merupakan alternatif yang baik bagi DCA. Selain mengurangi volatilitas pasar saham, cara investasinya juga jauh lebih mudah dari DCA. DCA harus melakukan transaksi setiap bulan, sedangkan reksadana campuran hanya memerlukan transaksi di tahap awal saja. Return 5 tahun terakhir (diperiode yang sama) dari reksadana campuran juga mirip DCA, bahkan lebih baik (249% vs 247%). Padahal return DCA yang saya simulasikan diatas belum memperhitungkan biaya bid-ask spread dan entry timing cost. Dengan kata lain return DCA di periode tsb bisa lebih rendah dari 247%.
DCA merupakan metode investasi yang cukup baik, tapi mungkin bukan yang terbaik. Metode ini kurang efektif terutama di pasar yang menguat tajam seperti pasar saham Indonesia 5 tahun terakhir Selain tertinggal jauh oleh investasi saham secara langsung (lump-sum), DCA bahkan juga kalah efektif dibandingkan dengan investasi langsung ke reksadana campuran. Prinsip risk-reward di dunia investasi tidak bisa dihindarkan. Jika ingin risiko yang lebih rendah, harus siap-siap dengan reward (return) yang lebih rendah juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar