Senin, 30 Juni 2008

Indonesia: Tirulah Spanyol (Juara Eropa 2008)

Usai sudah kejuaraan sepak bola Euro 2008 yang akhirnya dimenangkan Tim Kesebelasan Matador (Spanyol) melawan Jerman dengan skor sangat irit 1-0. Dari awal kejuaraan yang dimulai dari babak penyisihan grup D, penampilan Spanyol sangat mengesankan, tak pernah kalah dengan agregat kemenangan diatas 2. Tim besutan pelatih Luis Aragones yang dijaga oleh kiper Iker Casillas hanya kemasukan 4 gol yang merupakan terkecil kebobolan gol dibanding tim negara lainnya dan terakhir sukses menghempaskan Jerman yang notabene saat itu banyak para pengamat sampai penggila judi sepak bola memprediksi Jerman akan mampu menggulung Spanyol. Ritme permainan menyerang yang mereka sungguhkan enak untuk ditonton, mulai dari babak penyisihan sampai dengan partai final. Dengan dimotori oleh Xavi Hernandes, Andres Iniesta dan Cesc Fabregas yang berperan sebagai playmaker mampu mensuplai bola ke semua lini.
Ada sesuatu yang cukup menarik dengan pemain Spanyol yaitu postur tubuhnya. Berdasarkan data resmi uefa yang ada, terdapat 6 pemain (23 %) Spanyol mempunyai tinggi badan dibawah 175 cm, mereka adalah Santi Carzola (169 cm), Xavi Hernandes (170 cm), David Silva (170 cm), Andres Iniesta (170 cm), David Villa (175 cm) dan Sergio Garcia (175 cm). Selebihnya antara 175 cm - 185 cm sebanyak 56,5 % dan diatas 185 cm sejumlah 17,4 %. Dan kalau dirata-rata pemain spanyol mempunyai postur tubuh 179,61 cm atau secara umum paling pendek diantara peserta kejuaraan Euro 2008.
Postur tubuh tubuh yang relatif mungil yang mereka miliki (untuk ukuran orang-orang eropa) ternyata mereka mampu menang disemua pertandingan dan dengan aggresivitas tinggi mampu memobilisasi bola ke gawang lawan. Pada partai final itu, terlihat David Silva, Andres Iniesta dan Xavi Hernandes dengan aggresivitas tinggi mampu memberikan bola ke lini tengah dan depan meskipun seringkali mereka dihadang dan diganjal bahkan tidak jarang di-tackle oleh pemain lawan yang postur tubuhnya tinggi dan besar. Mereka juga sering maju ke depan guna mendukung serangan yang dibangun Cesc Fabregas, kemudian disodorkan kepada Fernando Torres.
Dengan postur tubuh yang demikian tidaklah menjadikan kendala bagi mereka untuk mampu tampil menyerang sepenuhnya. Artinya, dengan postur tubuh pendek bukan berarti power, speed, spirit, aggresivitas dan kekompakan mereka berkurang dan bahkan merasa inferior berhadapan dengan tim-tim negara borpostur tubuh tinggi - besar. Akhirnya seorang David Villa-pun mampu menjadi top scorer dengan mengemas 4 gol dimana saat melawan Rusia menciptakan 3 gol sekaligus. Dan Xavi Hernandes juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Euro 2008.
Lalu, apakah kemampuan pemain sepak bola Spanyol dengan tim sepakbola Indonesia layak di sejajarkan?? Kalau melihat kemiripan postur tubuh antara pemain sepak bola Spanyol dan Indonesia (rata-rata dibawah 175 cm) rasanya pemain-pemain sepak bola kita sanggup membuat prestasi yang cukup gemilang. Katakanlah, tidak musti level Asia cukup tingkat Asia Tenggara saja dulu. Haruskah pemain sepak bola kita merasa inferior terus dengan kemampuan tim sepak bola sendiri. Pemain sepak bola Spanyol saat ini cukup dikaruniai Tuhan dengan fisik yang hampir sama dengan pemain sepak bola Indonesia, berarti dengan kondisi tersebut, power, speed, aggresivitas juga sama bukan ?? Apakah kurang kompak dan kurang termotivasi? bukankah kita banyak mempunyai motivator ulung sebut saja Tung Desem Waringin, Andri Wongso dan lain-lain, mereka dapat diserahi tugas untuk memotivasi. Mereka bisa, kenapa kita gak bisa.... Ayo kamu bisa !!! Ah, jangan cuma mampu memetik kelapa dengan bola yang dijadikan alat pemetiknya (lihat iklan Extrasjoss-Bambang Pamungkas & Ponaryo Astaman beraksi).

Rabu, 18 Juni 2008

Pilih Retur Reksadana Tinggi ??? Tunggu Dulu...

Setiap akhir tahun para manajer investasi (MI) akan mengusahakan agar portofolionya menghasilkan tingkat pengembalian (return) setidaknya mencapai target yang sudah ditetapkan, syukur jika returnnya bisa melebihi target atau menjadi "juara" dengan mengalahkan return para pesaingnya. Umumnya dengan return yang tinggi, lebih mudah menjual jasa pengelolaan investasi atau reksadana dikemudian hari. Investorpun pada umumnya senang dengan return yang tinggi sehingga terkadang melupakan resiko investasi atau lebih parah lagi tidak mengetahui bahwa resiko harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi. Berdasar pengalaman penulis, ketidaktahuan investor amat wajar mengingat investor institusi pun banyak yang belum mempertimbangkan faktor resiko dengan seksama.

Sebelum kita berbicara lebih jauh, apa sebetulnya yang dimaksud dengan resiko investasi ? Dalam berinvestasi kita tentunya mempunyai harapan berapa return yang kita inginkan untuk periode waktu tertentu yang disebut expected return. Namun kenyataannya setelah periode tersebut, actual return atau return yang sesungguhnya kita terima belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan, bisa lebih besar bisa pula lebih kecil. Melesetnya actual return terhadap expected return inilah yang disebut resiko. Makin besar meleset maka makin besar pula resikonya. Dalam statistik resiko ini diukur dengan standard deviasi.

Berikut ini ilustrasi sederhana dengan mengambil contoh investasi pada reksadana, namun kegunaan atau penerapannya tidak terbatas pada investasi reksadana saja tetapi berlaku untuk semua investasi seperti pemilihan saham / obligasi yang anda lakukan sendiri. Tujuan dari ilustrasi ini adalah menjelaskan mengapa kita perlu memperhatikan resiko disamping melihat return.

Apabila anda mempunyai dana lebih untuk investasi misalkan pada reksadana, tentunya anda dihadapkan pada banyak pilihan reksadana yang dikelola oleh berbagai manajer investasi. Langkah pertama yang umumnya dilakukan investor adalah melihat daftar Nilai Aktiva Bersih (NAB) per Unit Pernyertaan (UP) atau semacam "harga" reksadana yang diterbitkan di koran setiap hari. Pada daftar tersebut tercantum juga return 30 hari terakhir dan return 1 tahun terakhir. Secara logis anda akan tertarik pada reksadana yang memberikan return tertinggi atau dalam kisaran tertinggi, misalkan 5 reksadana return tertinggi. Nah, dari situlah anda memilih mana yang terbaik atau sesuai dengan tujuan investasi anda.

Sebetulnya langkah tersebut tidak salah, namun belum lengkap bila anda tidak memperhatikan resiko. Misalkan anda mengamati ada 2 manajer investasi yang mengelola reksadana A dan B yang mana manajer investasi A menghasilkan return rata-rata 20% per tahun selama lima tahun terakhir dan kita percaya tahun depan kinerjanya masih konsisten seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain itu ada pilihan manajer investasi B yang menghasilkan return rata-rata 15% per tahun selama lima tahun terakhir dan kita juga percaya tahun depan kinerjanya masih konsisten seperti sebelumnya. Pertanyaannya manajer investasi manakah yang anda inginkan untuk mengelola uang anda selama setahun kedepan ?

Bila kita melihat hanya return saja maka tampaknya pertanyaan diatas seperti pertanyaan bodoh. Namun sebetulnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan kritis yang perlu ditelaah lebih lanjut. Caranya dengan melihat kinerja historis dari tahun ketahun untuk kedua manajer investasi tersebut. Manajer investasi A mempunyai kinerja dalam lima tahun terakhir seperti ilustrasi 1 sbb :

Manajer Investasi A

Tahun ke-1 menghasilkan return sebesar 40 %

Tahun ke-2 menghasilkan return sebesar 50 %

Tahun ke-3 menghasilkan return sebesar -20%

Tahun ke-4 menghasilkan return sebesar 60%

Tahun ke-5 menghasilkan return sebesar 30%

Tampak bahwa kinerja manajer investasi A berfluktuasi. Pada tahun pertama dana kelolaannya naik 40% dan tahun kedua naik 50% selanjutnya turun 20% namun tahun keempat naik 60%, kemudian tahun kelima turun 30%. Secara keseluruhan rata-rata kinerja manajer investasi A adalah 20% ( jumlahkan kinerja lima tahun tersebut dan bagilah dengan 5 ).

Sedangkan manajer investasi B yang mempunyai kinerja rata-rata 15% dengan catatan prestasi seperti ilustrasi 2 sbb.

Manajer Investasi B

Tahun ke-1 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-2 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-3 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-4 menghasilkan return sebesar 15 %

Tahun ke-5 menghasilkan return sebesar 15 %

Terlihat disini manajer investasi B lebih konsisten kinerjanya. Namun tetap saja return-nya dibawah return manajer investasi A. Kalau begini keadaannya apakah salah, bila investor memilih manajer investasi A ? Bukankah manajer investasi A menghasilkan uang yang lebih banyak ? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dihitung berapa uang yang bisa dihasilkan masing-masing manajer investasi dengan cara mengasumsikan uang sebesar masing-masing Rp. 100 sebagai modal awal yang dikelola oleh kedua manajer investasi tersebut. Dana awal Rp. 100 ditahun pertama dikelola manajer investasi A akan menjadi Rp. 140 ( = Rp. 100 x 1.40) sedangkan dengan manajer investasi B dana awal Rp. 100 menjadi Rp. 115 ( = Rp. 100 x 1.15 ). Pada tahun kedua, dana kelolaan sebesar Rp. 140 di manajer investasi A naik 50% menjadi Rp. 210 (= Rp. 140 x 1.50) sedangkan dana kelolaan manajer investasi B pada tahun kedua naik 15% menjadi Rp. 132.3 (= Rp. 115 x 1.15 ) . Demikian seterusnya kita selesaikan perhitungan hingga akhir tahun kelima. Hasil dari pengelolaan kedua manajer investasi disajikan pada ilustrasi sebagai berikut :

Manajer Investasi A

Tahun ke-1 , return sebesar 40 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 140

Tahun ke-2 , return sebesar 50 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 210

Tahun ke-3 , return sebesar -20% , hasil pengelolaan sebesar Rp 168

Tahun ke-4 , return sebesar 60% , hasil pengelolaan sebesar Rp 268,8

Tahun ke-5 , return sebesar 30% , hasil pengelolaan sebesar Rp 188,2

Manajer Investasi B

Tahun ke-1 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 115

Tahun ke-2 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 132,3

Tahun ke-3 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 152,1

Tahun ke-4 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 174,9

Tahun ke-5 , return sebesar 15 % , hasil pengelolaan sebesar Rp 201,1

Tampak disini hasil kelolaan manajer investasi B (Rp. 201,1) lebih tinggi dibanding manajer investasi A (Rp. 188,2). Dengan demikian investor seharusnya memilih manajer investasi B yang sekilas tampak "hanya" memberikan return 15% saja.

Dari sini kita bisa menarik paling tidak tiga pelajaran yaitu :
  1. Untuk menghitung return, gunakanlah geometric return yang mengukur berapa Rp. yang dihasilkan. Jangan menggunakan arithmetic return atau rata-rata return tahunan. Bila kita menghitung return manajer investasi A dengan geometric return maka hasilnya adalah 13.48% yang didapat dari rumus [((1+r1)*(1+r2)*(1+r3)*(1+r4).*(1+rn))^(1/n)]-1 . Atau dengan kata lain bila dana awal Rp. 100 dikelola oleh manajer investasi A selama lima tahun dengan return konsisten sebesar 13.48% maka pada akhir tahun kelima hasilnya adalah Rp. 188.2 seperti terlihat di tabel. Singkat kata return sebenarnya bukan 20% seperti yang dia klaim,
  2. Selain perhitungan return, perhatikan resiko yang dinyatakan dari konsistensi return. Semakin konsisten kinerjanya semakin kecil resikonya. Apa jadinya bila investor menginvestasikan dana misalnya pada awal tahun kelima, investor tersebut akan kehilangan 30% dananya. Dengan manajer investasi yang volatil kinerjanya kita tidak tahu kapan saat yang menguntungkan untuk berinvestasi,
  3. Sebelum memilih manajer investasi, asumsikan hal terburuk yang bisa terjadi dengan berinvestasi pada tahun terburuk dan lihat apakah kita sanggup menerima resiko sebesar itu. Masih banyak lagi yang harus diperhatikan selain faktor resiko dan return seperti siapa tim manajer investasi, bagaimana pengambilan suatu keputusan investasi, bagaimana kredibilitas perusahaan / grup afiliasinya, kebijakan investasinya, peraturan perpajakan dan masih banyak lagi informasi yang bisa digali dari prospectus, company profile dan laporan tahunan ( annual report ). Namun dengan memperhatikan return dan resiko setidaknya kita bisa menghindari potensi kerugian apabila ada manajer investasi atau agen penjual yang menyembunyikan kinerjanya dibalik return yang " tinggi "

sumber: Parto Kawito - pengamat pasar modal

Jumat, 06 Juni 2008

Osama Bin Laden Vs Munarman

Munarman, S.H (Panglima Komando Laskar Islam- Monas Berdarah) mendadak jadi ngetop bak selebritis nomor wahid di negeri ini. Hampir tiap hari nama dan fotonya terpampang dikoran dan TV, plus dapat cap baru sebagai orang paling dicari (DPO) oleh Mabes Polri alias buronan. Mantap !!...... Iseng-iseng saya coba bandingkan popularitas antara Munarman dengan Osama bin Laden (The Most Wanted) melalui search engine - Google, hasil penulusuran menghasilkan 22.700 kata-kata - Munarman - dalam 10 website, sebaliknya menghasilkan 13.700.000 kata-kata - Osama bin Laden- dalam 10 website (coba anda bandingkan). Jelas si Osama jauh lebih ngetop dibandingkan Munarman sekalipun menyandang status yg sama - DPO. Tapi, apa hubungannya Munarman dengan Osama bin Laden?
Ada hal cukup menggelitik untuk membandingkan antara keduanya. Ternyata, Munarman menggunakan cara-cara yang serupa dengan Osama bin Laden yaitu memberikan pernyataan melalui e-mail dan video yang dikirimkan ke media pemberitaan baik media massa maupun TV tanpa diketahui dimana persembunyiannya. Al Jazeera TV adalah langganan media berita untuk mempublikasikan video pernyataan Osama bin Laden. Sedangkan ANTV menerima kiriman video pernyataan Munarman tentang keinginan dirinya akan segera menyerahkan diri ke polisi jika pemerintah sudah mengeluarkan larangan Ahmadiyah dan redaksi detik.com mendapat kiriman e-mail dari orang yang mengaku sebagai munarman yang isinya antara lain permintaan untuk melarang beroperasinya laboratorium Namru-2 milik Amerika Serikat. Dari keduanya dapat ditarik benang merah bahwa eksistensi mereka masih ada/hidup meski secara fisik tak nampak sehingga masih layak untuk terus diburu. Rumor yang ada bahwa Munarman dijemput (baca:diculik) oleh 3 orang berjenggot yang entah siapa mereka.
Hmm, budaya tiru-meniru demikian agaknya sudah diikuti oleh orang Indonesia tetapi apakah cara-cara suicide bomb seperti di palestina dan irak akan juga diikuti??? Jangan sampai deh.....